Home CERPEN Aku yang Sudah Dewasa

Aku yang Sudah Dewasa

70
0

Oleh : Aulia Eka Savitri
Pengurus Redaksional

Dulu, aku pikir menjadi dewasa itu soal umur. Soal bisa pulang malam tanpa dimarahi, soal punya uang sendiri, atau bisa membeli barang tanpa harus meminta izin. Tapi ternyata, menjadi dewasa jauh lebih rumit dari sekadar bertambah usia.

Aku tahu aku sudah dewasa ketika mulai belajar menahan diri — bukan karena tak mampu marah, tapi karena tahu tak semua hal pantas diperdebatkan. Aku tahu aku sudah dewasa ketika aku berhenti memaksa orang untuk tetap tinggal, dan mulai belajar menerima bahwa beberapa orang hanya hadir untuk sementara.

Dulu aku mudah menangis karena hal kecil: nilai jelek, teman yang tak membalas pesan, atau seseorang yang tiba-tiba menjauh tanpa alasan. Sekarang, aku masih bisa menangis — tapi bukan karena kehilangan, melainkan karena lelah menahan semuanya sendiri.

Ada masa di mana aku ingin menyerah. Hidup terasa seperti jalan panjang tanpa petunjuk arah. Tapi entah kenapa, setiap kali aku hampir berhenti, aku selalu ingat kata ibu:

“Kamu boleh capek, tapi jangan berhenti. Hidup bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang tetap berjalan.”

Dan di situlah aku sadar, kedewasaan bukan soal kuat setiap waktu, tapi tentang berani bangkit meski berkali-kali jatuh.

Aku belajar bahwa tidak semua mimpi harus tercapai sekarang. Ada yang perlu waktu, ada yang menunggu kesiapan. Aku belajar bahwa cinta tak selalu berakhir bahagia, tapi dari situ aku tahu apa artinya menghargai dan melepaskan.

Dulu aku takut sendirian. Kini, aku tahu bahwa kesendirian bukan hukuman, melainkan ruang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Aku mulai suka duduk sendiri di kafe, menulis, atau sekadar mendengarkan lagu lama sambil memandangi langit sore.

Lucunya, aku dulu ingin cepat-cepat dewasa. Ingin bebas. Tapi kini, aku justru merindukan masa kecil — saat satu-satunya masalah adalah PR yang belum selesai dan hujan yang datang di jam bermain.

Namun, aku juga bersyukur. Karena setiap luka, setiap kegagalan, setiap tangis diam-diam di tengah malam… semuanya membentuk versi diriku yang sekarang. Versi yang lebih tenang, lebih sabar, dan lebih mengerti bahwa hidup memang tak harus sempurna untuk bisa disyukuri.

Kini, aku tidak lagi mengejar siapa yang pergi, tidak lagi membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Aku hanya ingin menjalani hari dengan tenang, mencintai diri sendiri dengan cara yang dulu tak sempat kulakukan.

Karena ternyata, menjadi dewasa bukan tentang berubah jadi orang lain — tapi tentang pulang ke diri sendiri, dengan hati yang lebih lapang dan pandangan yang lebih lembut terhadap dunia.

Aku mungkin belum sepenuhnya siap menghadapi semua hal, tapi satu hal yang pasti:

Aku tidak lagi takut. Aku sudah tumbuh. Aku sudah belajar. Aku… sudah dewasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here