Home CERPEN Sepotong Roti Bu Ratna

Sepotong Roti Bu Ratna

111
0

Oleh: Naysila Hafisa
Wartawan LPM Qalamun

Pagi itu, Bima singgah di warung kecil milik Bu Ratna. Dari balik rak roti sederhana, matanya langsung tertuju pada roti cokelat kesukaannya. Sayang, uang yang ia bawa hanya dua ribu rupiah, sementara harga roti sudah naik menjadi tiga ribu.

Bima hanya berdiri terpaku, bingung. Bu Ratna yang memperhatikan segera tersenyum hangat dan membungkus sepotong roti.
“Ambil saja, Nak. Bayarnya nanti kalau sudah ada,” ucapnya lembut.

Bima menerima roti itu dengan perasaan senang sekaligus terharu. Sepanjang jalan menuju sekolah, ia merasakan manisnya cokelat bercampur hangatnya kebaikan seorang ibu sederhana.

Tahun-tahun berlalu. Bima, yang kini telah dewasa, kembali menyusuri gang kecil itu. Warung Bu Ratna masih ada, meski tampak lebih sepi dari dulu. Ia membeli sepotong roti, lalu menyerahkan uang yang jauh lebih banyak dari harganya.
“Uang ini bukan hanya untuk harga rotinya, Bu,” katanya. “Tapi balas budi atas kebaikan yang dulu Ibu berikan.”

Bu Ratna terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. Ternyata, kebaikan sederhana bisa bertahan lama dalam ingatan seseorang. Ia menatap Bima penuh haru.
“Bima… kamu masih ingat sama Ibu?” tanyanya pelan.

“Mana mungkin saya lupa, Bu. Roti Ibu dulu bukan hanya mengisi perut saya, tapi juga menguatkan hati saya. Dari situlah saya belajar, bahwa kebaikan kecil bisa memberi semangat besar.”

Hening sejenak, hanya kipas tua yang berputar perlahan. Bu Ratna tersenyum hangat, senyum yang tak pernah berubah.
“Ibu tidak pernah mengharapkan balasan, Nak. Cukup melihat kamu jadi orang baik sudah membuat Ibu bahagia.”

Bima menunduk hormat, menggenggam tangan Bu Ratna.
“Justru karena itu, Bu, saya ingin meneruskan kebaikan itu. Seperti yang Ibu ajarkan tanpa kata-kata, hanya lewat sepotong roti.”

Sore itu, sebelum pergi, Bima sempat duduk di bangku kayu tua yang penuh kenangan. Ia menatap sekeliling sambil menghirup aroma roti yang masih sama seperti dulu.
“Ibu, rasa rotinya tidak pernah berubah,” ujarnya tersenyum.
Bu Ratna tertawa kecil. “Mungkin bukan rotinya yang istimewa, Nak, tapi kenangan yang melekat di dalamnya.”

Ketika Bima melangkah pulang, terdengar suara anak-anak berseragam sekolah melintasi gang itu. Ia tersenyum, seolah melihat dirinya sendiri ketika kecil. Dalam hatinya, ia bertekad: kebaikan itu tak boleh berhenti di sini.

Warung kecil Bu Ratna menjadi saksi bahwa sepotong roti bisa menghadirkan kebaikan yang selalu dikenang.
Pagi itu, Bima singgah di warung kecil milik Bu Ratna. Dari balik rak roti sederhana, matanya langsung tertuju pada roti cokelat kesukaannya. Sayang, uang yang ia bawa hanya dua ribu rupiah, sementara harga roti sudah naik menjadi tiga ribu.

Bima hanya berdiri terpaku, bingung. Bu Ratna yang memperhatikan segera tersenyum hangat dan membungkus sepotong roti.
“Ambil saja, Nak. Bayarnya nanti kalau sudah ada,” ucapnya lembut.

Bima menerima roti itu dengan perasaan senang sekaligus terharu. Sepanjang jalan menuju sekolah, ia merasakan manisnya cokelat bercampur hangatnya kebaikan seorang ibu sederhana.

Tahun-tahun berlalu. Bima, yang kini telah dewasa, kembali menyusuri gang kecil itu. Warung Bu Ratna masih ada, meski tampak lebih sepi dari dulu. Ia membeli sepotong roti, lalu menyerahkan uang yang jauh lebih banyak dari harganya.
“Uang ini bukan hanya untuk harga rotinya, Bu,” katanya. “Tapi balas budi atas kebaikan yang dulu Ibu berikan.”

Bu Ratna terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. Ternyata, kebaikan sederhana bisa bertahan lama dalam ingatan seseorang. Ia menatap Bima penuh haru.
“Bima… kamu masih ingat sama Ibu?” tanyanya pelan.

“Mana mungkin saya lupa, Bu. Roti Ibu dulu bukan hanya mengisi perut saya, tapi juga menguatkan hati saya. Dari situlah saya belajar, bahwa kebaikan kecil bisa memberi semangat besar.”

Hening sejenak, hanya kipas tua yang berputar perlahan. Bu Ratna tersenyum hangat, senyum yang tak pernah berubah.
“Ibu tidak pernah mengharapkan balasan, Nak. Cukup melihat kamu jadi orang baik sudah membuat Ibu bahagia.”

Bima menunduk hormat, menggenggam tangan Bu Ratna.
“Justru karena itu, Bu, saya ingin meneruskan kebaikan itu. Seperti yang Ibu ajarkan tanpa kata-kata, hanya lewat sepotong roti.”

Sore itu, sebelum pergi, Bima sempat duduk di bangku kayu tua yang penuh kenangan. Ia menatap sekeliling sambil menghirup aroma roti yang masih sama seperti dulu.
“Ibu, rasa rotinya tidak pernah berubah,” ujarnya tersenyum.
Bu Ratna tertawa kecil. “Mungkin bukan rotinya yang istimewa, Nak, tapi kenangan yang melekat di dalamnya.”

Ketika Bima melangkah pulang, terdengar suara anak-anak berseragam sekolah melintasi gang itu. Ia tersenyum, seolah melihat dirinya sendiri ketika kecil. Dalam hatinya, ia bertekad: kebaikan itu tak boleh berhenti di sini.

Warung kecil Bu Ratna menjadi saksi bahwa sepotong roti bisa menghadirkan kebaikan yang selalu dikenang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here