Oleh : Reski Amalia Ramadhani
Pengurus Redaksional
Namaku Sinta.
Sejak kecil, aku selalu diajarkan untuk hidup hemat.
“Jangan boros, Sin,” kata Ibu. “Uang itu susah dicari, jangan dihambur-hamburkan.”
Aku menuruti nasihat itu dengan sepenuh hati — mungkin terlalu sepenuh hati.
Sejak kuliah sampai kerja, aku dikenal sebagai orang yang paling hemat di antara teman-temanku.
Kalau makan, aku selalu pilih menu termurah. Kalau belanja, aku tunggu diskon. Kalau jalan-jalan, aku lebih suka di rumah aja sambil nonton YouTube gratisan.
Aku selalu berpikir, menabung itu segalanya.
Dan memang benar — tabunganku makin banyak, tapi entah kenapa… hatiku makin hampa.
Suatu malam, aku pulang kerja agak larut. Jalanan sepi, lampu-lampu toko mulai padam, dan perutku mulai berontak minta diisi.
Dari ujung gang, aroma nasi goreng menyeruak — harum, gurih, dan entah kenapa terasa hangat sekali.
Ada penjual nasi goreng keliling dengan gerobak sederhana. Api dari wajan kecilnya menari-nari, dan suara cet-cet-cet spatula membuat suasana malam jadi hidup.
Aku berhenti di depannya, menatap papan kecil bertuliskan:
“Nasi Goreng Spesial — Rp18.000.”
Aku menelan ludah.
Delapan belas ribu.
Tidak mahal, tapi juga tidak murah menurut versi diriku yang “hemat maksimal”.
Aku buka dompet.
Masih ada uang tunai cukup, tapi pikiranku langsung berkata, “Ah, nanti aja. Di rumah masih ada mie instan.”
Aku menatap wajan itu sebentar lagi.
Tiap kali nasi dilempar ke udara, aromanya semakin menggoda.
Tapi akhirnya, aku hanya tersenyum kecil dan berjalan pulang.
“Lain kali aja, deh,” bisikku.
Di rumah, aku memasak mie instan seperti biasa.
Tapi anehnya, rasanya hambar.
Padahal biasanya aku suka.
Malam itu, aku makan sambil terus teringat aroma nasi goreng di ujung gang tadi — wangi bawang putih, potongan telur, dan kecap yang sedikit gosong di pinggiran wajan.
Entah kenapa, rasanya seperti aku melewatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makanan.
Keesokan harinya, aku pulang dengan niat kuat: hari ini aku akan beli nasi goreng itu.
Tapi ketika aku tiba di tempat biasa, gerobak itu sudah tidak ada.
Aku bertanya ke tukang ojek yang nongkrong di sana.
“Oh, si Bang Udin? Udah gak jual lagi, Mbak. Katanya pindah kampung, mau urus ibunya yang sakit.”
Aku diam.
Tiba-tiba, rasa sesal aneh menyusup pelan di dada.
Aku berdiri lama di situ, menatap jalan kosong yang semalam masih penuh aroma wangi dan suara spatula.
Aku menyesal — bukan karena kehilangan nasi gorengnya, tapi karena terlalu lama menahan diri untuk menikmati hal kecil yang sebenarnya bisa membuatku bahagia.
Malam itu aku belajar sesuatu:
Menahan diri itu penting, tapi terlalu menahan juga bisa membuat kita kehilangan momen berharga.
Hidup bukan cuma soal mengumpulkan uang, tapi juga tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa senang — walau hanya dengan sepiring nasi goreng di pinggir jalan.
Sekarang, setiap kali lewat tukang makanan, aku berhenti sejenak.
Kadang beli, kadang cuma menyapa.
Tapi aku tidak lagi berpikir, “Nanti aja.”
Karena siapa tahu, kesempatan kecil seperti itu… tak akan datang dua kali.







