Oleh : Alfia
Pengurus Redaksional
Pagi itu jam dinding di ruang kelas menunjukkan pukul 07.58. Dimana perkuliahan akan dimulai dalam dua menit lagi. Dini berlari kecil menaiki tangga demi tangga menuju lantai tiga Fakultas Hukum. Nafasnya terengah-engah, buku catatan yang ia pegang pun hampir terjatuh dari tangannya. Seperti biasa, ia datang tepat waktu tidak terlalu cepat, namun juga belum bisa dikatakan terlambat.
“Duduk sini, Din!” seru Cika, sahabat sekaligus partner tugasnya sejak semester satu.
Dini tersenyum lelah sambil menjatuhkan diri ke kursi. “Tugasnya udah dikumpulin?”
“Udah. Untung aku print duluan. Kamu tuh, kebanyakan nunda,” jawab Cika sambil menahan tawa.
Tak lama kemudian dosen memasuki ruang kelas dengan langkah yang tenang. Suaranya yang lembut tapi tegas, membuat suasana kelas menjadi dingin tapi tetap terasa hangat. Pada hari itu mereka membahas topik terakhir sebelum ujian akhir semester, yaitu Etika Profesi Hukum. Yang dimana mata kuliah ini secara khusus membahas tentang landasan moral, norma dan standar perilaku yang harus dimiliki oleh para praktisi hukum seperti hakim, jaksa, polisi, advokat dan notaris. Dan yang menjadi pilar utama dalam mata kuliah ini juga adalah integritas, kejujuran dan profesionalisme. Kata “integritas” terasa sangat menancap di kepala Dini pada saat itu. Dini kembali mengingat kejadian seminggu yang lalu saat ia dan kelompoknya hampir menyalin laporan dari internet karena mengejar deadline. Untung saja Cika menolak dan memaksa mereka untuk menulis kembali.
“Integritas bukan hanya soal kejujuran,” kata dosen itu. “Tapi keberanian untuk tetap benar, bahkan ketika semua orang memilih jalan mudah.”
Kata-kata itu membuat hati Dini bergetar. Ia sadar, bahwa kuliah bukan hanya soal nilai atau lulus cepat, tapi tentang membangun karakter. Ia menatap buku catatannya, mencoba menulis kembali kalimat yang keluar dari perkataan dosen itu besar-besar di pojok kanan bukunya “Keberanian untuk tetap benar”.
Setelah kelas berakhir, Dini dan Cika duduk di taman kampus. Angin sepoi-sepoi sore itu berhembus lembut, membawa aroma bunga kamboja dari halaman depan.
“Gila, ya,” kata Dini, “aku baru sadar, kita udah hampir empat tahun kuliah.”
“Iya,” sahut Cika. “Rasanya baru kemarin kita ikut pengenalan mahasiswa baru, rasanya juga baru kemarin kita bingung nyari-nyari ruang kuliah kita untuk pertama kali.”
Dini tertawa kecil. “Aku bahkan masih inget kamu nangis gara-gara salah masuk kelas ekonomi.”
Cika mencubit lengan Dini dengan pelan. “Eh, jangan diingetin donggg!”
Suasana menjadi hening sejenak. Dari kejauhan, mereka melihat para mahasiswa lain yang lalu-lalang membawa buku dan laptop. Beberapa sibuk latihan presentasi, yang lain bercanda dibawah pohon sambil memakan gorengan. Semua tampak sibuk mengejar sesuatu, entah mengejar nilai, mimpi, atau sekadar kebahagiaan kecil di sela deadline mereka.
“Din,” kata Cika pelan, “kalau nanti kita udah lulus, kamu mau ngapain?”
Dini menatap langit biru di atas gedung kampus dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Cika secara tiba-tiba itu. “Aku pengennya kerja di bidang hukum, mau jadi notaris. Tapi, kadang aku takut nggak siap Cik.”
Cika menepuk Dini. “Nggak ada yang benar-benar siap Din. Kita belajar sambil jalan.”
Dini tersenyum hangat. Dalam hati, ia berkata, bahwa perkuliahan bukan hanya tentang teori dan tugas. Tapi ada banyak pelajaran yang tak tercatat di buku, entah itu tentang persahabatan, tanggung jawab, dan keberanian untuk menghadapi masa depan.
Senja sore itu mulai menampakkan keindahannya, Dini dan Cika pun berjalan meninggalkan taman. Di depan gedung fakultas, Cika menatap sekeliling gedung, tangga, bahkan kursi kayu yang sering ia duduki saat menunggu kelas mulai. Tampak biasa saja, tapi semuanya menyimpan penuh jejak kenangan.
“Yuk, makan dulu. Kayaknya kamu butuh energi buat skripsi,” canda Dini.
Cika tertawa, lalu menjawab ringan, “Oke. Tapi kamu yang traktir yaaa!”
Dini dan Rina pun melangkah bersama, meninggalkan kampus sore itu. Dua mahasiswa yang sadar bahwa setiap langkah kecil selama di perkuliahan adalah bagian dari perjalanan besar menuju kehidupan yang sebenarnya.







