Home OPINI Keseimbangan Antara Kehidupan Digital dan Mental Sehat

Keseimbangan Antara Kehidupan Digital dan Mental Sehat

77
0

Oleh : Haura Hafidzah
Wartawan Magang

Kita semua tahu, hidup kita sekarang lengket dengan gawai. Dari bangun tidur sampai mau tidur, mata kita terus memandang layar. Ini memang keren karena kita selalu terhubung, tapi ada harga mahal yang kita bayar dari kesehatan mental kita yang mulai lelah.

Opini ini sederhana: Kita harus berani mematikan handphone agar jiwa kita tidak ikut ‘mati’ karena Otak Kita Terlalu Lelah (Kelelahan Digital).

Coba pikirkan Kapan terakhir kali kita benar-benar fokus tanpa diganggu notifikasi? Sangat jarang, handphone itu seperti permen manis di awal, tapi membuat kita terus ketagihan. Otak kita dipaksa bekerja terus-menerus memproses info dari media sosial, berita, dan pesan. Ini namanya kelelahan digital. Kita jadi gampang cemas, susah tidur, dan cepat emosi karena otak tidak sempat istirahat Kita selalu ada, tapi sebenarnya kita tidak pernah benar-benar santai.

Masalah besar lainnya adalah media sosial penuh dengan pameran palsu. Orang hanya mengunggah hal-hal yang bagus dan sukses. Kita yang melihatnya tanpa sadar mulai membandingkan hidup kita yang biasa ini dengan panggung kebahagiaan orang lain.

Perasaan “takut ketinggalan tren” (FOMO) membuat kita terus mengecek ponsel, berharap kita juga sebahagia mereka. Padahal, hubungan online yang ribuan itu tidak sebanding dengan satu obrolan hangat dengan teman di dunia nyata. Koneksi online seringkali dangkal, dan ini justru membuat kita merasa lebih sepi.

Solusi Sederhana: Beri Batas Tegas

Kita tidak perlu membuang handphone, tapi kita perlu menguasainya. Anggap handphone itu alat bantu, bukan bos yang harus selalu kita ikuti perintahnya (notifikasi).

Apa yang harus kita lakukan?
Istirahat Total: Coba luangkan waktu 1-2 jam sehari tanpa scroll media sosial. Gunakan waktu itu untuk bekerja seperti membaca buku, atau bicara dengan keluarga dan Hapus aplikasi yang paling sering membuat kita buang-buang waktu dan merasa buruk tentang diri sendiri.

Kesimpulan Agar mental kita sehat, kita harus belajar bilang “STOP” pada dunia digital. Kualitas hidup kita yang nyata jauh lebih penting daripada jumlah like di dunia maya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here