Home OPINI Propaganda Media: Kebohongan Total yang Membingkai Isu demi Kebenaran

Propaganda Media: Kebohongan Total yang Membingkai Isu demi Kebenaran

60
0

Oleh: Ahmad Alawi
Wartawan LPM Qalamun

13 Oktober 2025, publik dari program Trans 7 menayangkan tayangan yang menciptakan gambaran sosok pendiri pesantren hidup bermegahan dari hasil umat maupun santri. Mereka juga menyusun narasi tolol yang menuding adanya perbudakan dalam kehidupan pesantren.

“Santrinya minum susu saja kudu jongkok, emang gini kehidupan pondok?”

Narasi yang disusun dalam media tersebut disampaikan tanpa konteks yang utuh. Bukankah dalam Islam, untuk minum saja kita harus duduk atau minimal jongkok? Hal ini sudah ditegaskan dalam hadis Nabi Saw. Dalam sabdanya: “Duduklah lalu minum” (HR. Muslim).
Dan sang kiai yang diklaim “hidup bermegahan” hanyalah tuduhan yang disampaikan tanpa konteks.

Di sisi lain, dalam Al-Qur’an sudah jelas dijelaskan bahwa seseorang yang memiliki ilmu atau yang menuntut ilmu akan mendapatkan keutamaan. Allah SWT mengangkat mereka dengan beberapa derajat. Allah SWT berfirman: “Niscaya Allah SWT akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat.”

Dalam artian, jika kita mengkaji makna “درجات” (derajat) dalam ilmu nahwu, hukum “derajat” ialah nakirah (نكرة), yang dimaksud dengan nakirah tersebut adalah sesuatu yang umum. Maknanya, jika kita perinci dengan jelas, kedudukan “derajat” dalam ilmu nahwu hukumnya nakirah atau umum. Sesuatu yang dihukumi nakirah berarti tidak spesifik. Maka, “derajat” yang dimaksud dalam konteks ilmu nahwu adalah derajat yang diangkat oleh Allah SWT, namun derajat dalam bentuk semacam apa?

Namun, di sisi lain, kita tidak bisa menjadikan hal itu sebagai tanda tanya. Oleh karena itu, perlunya kita juga mengetahui makna derajat dalam ilmu tafsir. Dalam ilmu tafsir, jika kita mengkaji untuk melengkapi pemahaman konteks ayat tersebut, Allah SWT akan mengangkat derajat di dunia maupun di akhirat.

Media yang seharusnya menjadi ruang klarifikasi kini berubah menjadi pabrik narasi siap saji. Mereka tidak lagi menanyakan, “Apa yang sebenarnya terjadi?”, tetapi “Apa yang akan membuat audiens menatap layar lebih lama?”. Di situlah kebodohan disulap menjadi kebenaran, karena rating lebih penting daripada logika. Apabila kita mengutip istilah jurnalisme klasik, “verify before amplify”, tampaknya yang mereka pahami adalah, “viral dulu, klarifikasi nanti.”

Media dipenuhi konteks sosial, tradisi keagamaan, dan nilai pendidikan, tetapi kini semua itu ditendang keluar dari bingkai karena kamera hanya menyorot apa yang bisa mereka jual. Yang ironis, mereka menyebut diri sebagai “media independen”. Padahal, independensi tanpa intelektualitas hanyalah kebebasan untuk menjadi bodoh di depan publik.

Semua media bukan hanya memiliki kekuatan, tetapi juga tanggung jawab besar, karena masalah sosial adalah hal yang sensitif. Dalam dunia media, moral seorang jurnalis adalah menjaga etika kepada publik. Tuduhan “hidup bermegahan” yang dibungkus dengan tujuan manipulatif adalah bentuk pelanggaran terhadap prinsip jurnalisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here