Oleh: Fara Fatri Anjuni
Wartawan LPM Qalamun
Namanya sky. Awalnya ia begitu bersemangat saat memutuskan bergabung dengan sebuah organisasi di kampus. Ia membayangkan akan bertemu teman-teman baru, belajar banyak hal, dan mungkin menemukan rumah kedua di sana. Namun, kenyataannya jauh berbeda.
Di balik rapat-rapat yang panjang dan kegiatan yang melelahkan, sky justru merasa terasing, merasa sakit. Orang-orang di sekelilingnya sibuk dengan lingkaran pertemanan mereka sendiri. Sky kerap merasa tak dianggap, seolah kehadirannya hanya sekadar nama di daftar anggota. Pelan-pelan, semangat itu memudar. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Untuk apa aku bertahan di sini? Kenapa aku tidak berhenti saja?”
Pikiran itu terus menghantui, sampai suatu malam seorang temannya berkata padanya,
“Kalau kamu sudah berani berenang, ya harus siap basah, sky. Hidup itu bukan soal setengah-setengah. Kalau ujungnya mau nyerah, buat apa dulu kamu mulai? Jangan kasih alasan buat mimpimu berhenti. Berjuang memang sakit, tapi nyerah lebih nyesek.”
Kata-kata itu menghantam hatinya. Ia terdiam, menyadari sesuatu. Bukankah sejak awal dirinya yang memilih untuk memulai perjalanan ini? Bukankah dirinya juga yang berjanji ingin berkembang? Jika ia menyerah sekarang, bukankah itu sama saja ia mengkhianati dirinya sendiri?
Beberapa hari setelahnya, seorang teman lain menatapnya dengan senyum tulus.
“Aku percaya, kamu bukan orang yang mudah menyerah. Ingat dirimu yang kemarin, yang penuh semangats suka tantangan. Dia masih ada di dalam dirimu, hanya tertutup rasa lelah.”
Ucapan itu membuat mata sky panas. Ia menyadari satu hal penting, ia sayang pada dirinya sendiri. Ia ingin bertumbuh, bukan mundur. Meski lingkungan itu tak selalu nyaman, meski jalannya tak selalu mudah, ia memilih bertahan. Bukan demi orang lain, melainkan demi dirinya, demi versi terbaik dari sky yang kemarin demi versi baru yang sedang ia bangun.
Dan sejak hari itu, Sky melangkah dengan tekad baru. Ia belajar bahwa terkadang kenyamanan bukanlah syarat untuk bertumbuh. Justru di dalam ketidaknyamananlah, manusia mendapatkan ruang untuk belajar, diuji, ditempa, Nyeri, tapi menguatkan. Sulit, tapi mendewasakan dan akhirnya tumbuh menjadi lebih kuat.







