Nama: Retno Sekar Ayu
Jurusan: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Angkatan: Pengurus Redaksional LPM Qalamun
Di sela pendar layar ponsel yang diredupkan, Elena memeluk bayangan yang tak memiliki rupa pasti. Baginya, pemuda itu adalah menyusun bait puisi yang dikirim melalui gelombang udara yang hadir tanpa aroma, namun mampu memenuhi setiap sudut dada. Mereka dipisahkan oleh ribuan kilometer tanah dan udara, serta dinding kaca yang tak pernah bisa ditembus oleh jemari.
Suara lelaki itu menjadi satu-satunya kompas dalam labirin rindu yang ia bangun sendiri. Setiap nada bicara yang tertangkap oleh pengerasan suara menjadi penawar sepi,meski Elena sadar bahwa ia sedang jatuh cinta pada sebuah frekuensi. Ada kehangatan yang menjalar setiap kali notifikasi berbunyi, sebuah paradoks rasa yang tercipta dari ketiadaan fisik yang nyata.
Namun, di balik degup jantung yang kencang, terselip duri keraguan yang perlahan tumbuh. Elena mencintai seseorang yang identitasnya hanya sebatas piksel dan rangkaian kata-kata manis yang dikirim pada pukul dua pagi. Ia tak pernah tahu apakah binar mata dalam foto itu benar-benar melihatnya atau sekadar topeng yang dipinjamkan dari dunia antah-berantah.
“Apakah kamu nyata?” tanya Elena pada sunyi, ketika pesan-pesannya hanya berbalas janji tanpa bukti pertemuan. Ketidakpastian itu bagaikan kabut tebal yang membuat logika, menjadikannya kemungkinan pahit yang mengintai. Ia merasa seperti memeluk asap terasa ada, tetapi jemarinya selalu berakhir mengepal bersembunyi.
Meski demikian, rasa sayang telah mengakar kuat, melampaui logika manusia pada umumnya. Ia telah menyerahkan rahasia terdalamnya kepada sosok yang mungkin saja hanya kumpulan algoritma atau imajinasi seseorang yang dilanda kebosanan. Cinta ini tumbuh subur di lahan yang gersang akan terjamin, disiram oleh harapan-harapan semu yang ia rawat setiap malam.
Setiap kali mereka berencana untuk bertemu, selalu ada badai alasan yang menghalangi jalan. Alibi-alibi itu tersusun rapi cukup masuk akal untuk dipercayai oleh hati yang telanjur berharap, tetapi terasa janggal bagi akal sehat yang masih tersisa. Elena terjebak dalam siklus menunggu sesuatu yang mungkin memang tidak pernah ada sejak awal.
Ia rindu pelukan yang belum pernah ia rasakan dan aroma parfum yang hanya bisa ia bayangkan. Baginya, lelaki itu adalah hantu paling indah yang menghantui pikirannya dengan janji-janji tentang masa depan di balik cakrawala. Kehadirannya adalah candu, meskipun ia tahu bahwa dosis yang ia konsumsi bisa saja mengandung racun kepalsuan.
Teman-temannya sering berbisik tentang bahaya mencintai bayang-bayang di dunia maya. Namun, bagi Elena rasa sakit yang ia rasakan saat lelaki itu menghilang seketika menjadi bukti paling nyata bahwa perasaannya bukanlah fiksi. Ia lebih memilih terluka karena kemungkinan kecelakaan daripada kehilangan satu-satunya sumber kebahagiaannya saat ini.
Malam ini, ia kembali menatap foto profil yang diam-diam, mencoba mencari kebenaran di balik lensa kamera yang beku. Ada ketakutan besar bahwa suatu hari layar itu akan gelap untuk selamanya, dan ia sadar bahwa dirinya telah memberikan segalanya pada ketiadaan. Namun, ego dan rindu selalu menang, memaksanya kembali mengetik kata “sayang” ke sosok anonim itu.
Elena adalah pelaut yang mencintai fatamorgana di tengah samudra luas yang sepi. Dia tahu bahwa pelabuhan itu mungkin tidak akan pernah ia capai atau bahkan tidak akan pernah benar-benar dibangun oleh takdir.
Namun, selama sinyal masih menyambungkan hati mereka, ia akan tetap setia pada cinta yang lahir dari cahaya ponsel dan berakhir di lubang-lubang di sekitarnya.







