Oleh: Musfira Fahma Amalia
Wartawan LPM Qalamun
Hari itu, hujan tidak deras, hanya rintik-rintik yang turun perlahan. Di dalam kamar, semuanya hening. Suasana yang pas untuk membuka sesuatu yang selama ini hanya kupandangi, belum kusentuh.
Di atas meja belajarku tergeletak sebuah kitab bersampul kuning. Sederhana, tapi ada sesuatu dari sampulnya yang menarikku, seolah ia menyimpan isi yang tak bisa ditebak hanya dengan mata. Di sudut kanan atas, tertera kaligrafi: Adh-Dhiya’ al-Lami’.
“Coba baca dari mukadimahnya,” ujar Umi yang duduk di seberang, suaranya pelan seperti takut mengganggu suasana. “Di sana, kamu akan temukan napas cinta yang tidak biasa.”
Aku membuka halaman pertama. Tulisan Arab itu mengalun di kepalaku. “Ya Rabbi shalli ‘ala…” Sebuah irama muncul tanpa bunyi. Getarnya tak terdengar, tapi terasa. Akhiran huruf ‘ain di setiap bait membawa semacam harmoni yang membuatku berhenti sejenak, diam, lalu lanjut membaca dengan pelan.
“Ini lebih dari sekadar syair, ya, Mi,” kataku tanpa sadar.
Umi hanya tersenyum, matanya seolah ikut membaca bersamaku. “Itu karena ia ditulis dengan cinta.”
Dua belas bait pertama itu ternyata bukan tanpa maksud. “Dua belas hari kelahiran Nabi?” tanyaku.
“Ya,” kata Umi, “Dan itulah keindahan sastra yang ditiup ruh cinta.”
Setelah mukadimah, muncul ayat-ayat Al-Qur’an: dari Al-Fath, At-Taubah, dan Al-Ahzab. Semuanya seperti berbaris rapi untuk satu peringatan: kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ. Setiap ayat bukan hanya kubaca, tapi rasanya seperti menyusup ke dalam napas. Tidak sekadar teks, tapi zikir.
Lalu syair-syair itu berlanjut. Akhirannya berubah, dari ‘ain menjadi na. Lebih lembut. Kisah perjalanan Nabi dilukis di dalamnya bukan dengan cerita biasa, tapi dengan pujian, haru, dan hormat.
“Kitab ini seperti cermin…” gumamku pelan. “Tapi yang dipantulkan bukan wajahku, melainkan isi jiwaku.”
Umi menatapku lembut. “Karena cinta, Nak, memang tidak selalu terasa sebagai cinta. Kadang ia hadir sebagai hening yang menyentuh.”
Kitab yang ditulis dalam bahasa Arab ini disusun menjadi sepuluh fasal. Total baitnya enam puluh tiga, angka yang sama dengan usia Rasulullah ﷺ. Sekali lagi, tidak ada satu pun bagian dari kitab ini yang kebetulan. Semuanya memiliki alasan, semuanya memiliki ruh dan makna yang mendalam.
Karya agung ini bernama lengkap Maulid Adh-Dhiya’ al-Lami’, yang ditulis oleh seorang ulama besar dan ahli sastra yang dikenal memiliki kekuatan spiritual tinggi, Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz. Menurut beberapa sumber, beliau menyelesaikan penulisan ini di Syihir, Hadramaut, Yaman, hanya dalam waktu satu malam pada tahun 1994.
Aku menutup kitab itu perlahan. Di luar, hujan masih turun. Namun kini bukan hanya langit yang sedang berdoa. Aku juga.
Dan malam itu, aku tahu: cinta tidak selalu hadir dalam bentuk pelukan atau ucapan yang terucap. Kadang, cinta hadir dalam bait-bait syair, dalam susunan huruf, dalam halaman-halaman sebuah kitab maulid yang telah menyentuh sesuatu yang tak pernah bisa kusentuh sebelumnya, yaitu hatiku.







