Home PUISI 675 Hari

675 Hari

121
0

Oleh: Musfira Fahma Amalia
Wartawan LPM Qalamun

Udara Gaza penuh serpih dan suara sirine;
Saudara kita lari tanpa tahu ke mana,
karena tidak ada lagi tempat yang disebut aman.

Sejak 07 Oktober 2023, bom dijatuhkan tanpa jeda;
rumah ibadah jadi sasaran,
RS Al-Shifa dibombardir,
bayi-bayi dikeluarkan dari inkubator yang mati.

Tenda pengungsian jadi rumah baru bagi saudara kita,
sementara musim dingin dan kelaparan
memeluk tubuh mereka
yang bahkan tak sempat tumbuh.

PBB mencatat lebih dari 36 ribu jiwa yang gugur,
sepertiganya anak-anak
yang tak pernah tahu kenapa dunia begitu kejam.

Air bersih hanya datang satu jam sehari;
makanan tak cukup untuk semua,
namun mereka tetap berbagi
meski dalam keadaan ketidakcukupan.

Mereka yang bertahan berkata dengan teguh,
“Ini tanah kami: pohon, burung, dan batu; kami tetap tinggal di sini.”
Bangsa yang dipimpin oleh Muhammad tidak akan pernah menyerah,
meski dunia hanya diam membisu.

Dunia menonton dengan mata terbuka,
tapi hati tertutup rapat.
Para pemimpin bicara hak asasi,
tapi diam saat Gaza dibombardir.

675 hari —
bila genosida ini bukan bencana,
lalu apa nama untuk darah yang mengalir tanpa pengadilan?

Jika dunia masih buta,
biarlah puisi ini menjadi saksi,
bahwa di sebuah tanah yang bernama Gaza
masih ada manusia yang memperjuangkan kebebasan,
meskipun darah adalah jalan kebebasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here