Oleh: Nur Haliza
Wartawan LPM Qalamun
Mari berkenalan dengan Biru, yang masih mencari tujuan namun tak kunjung mendapati titik temu.
Tahun 2016, pengumuman nilai terbaik hasil Ujian Nasional di Sekolah Dasar Bintang.
“Ibu akan bacakan nama juara terbaik dengan nilai Ujian Nasional terbaik pada tahun ini.”
Sontak saja seluruh pandang tertuju pada Fajar, si ambis nan hebatnya kelas 6 pada saat itu. Tidak heran mengapa semua menerka hal yang sama, siapa lagi sang juara kelas kalau bukan ia. Sahutan terdengar pada setiap sudut kelas, setiap bangku dan meja yang dijajar tidak terlalu berdekatan itu, hanya berselang sejenak, kemudian menjadi hening ketika mendengar penuturan selanjutnya dari Kepala Sekolah.
“Tapi kali ini, kalian tidak akan menyangka siapa si juara terbaik kita,” pungkasnya.
Ada jeda di sana, sesaat sebelum menyebutkan nama di balik tanda tanya murid-murid kelas 6 yang akan segera menuju kelulusannya. Kemudian, Biru mengedarkan pandangannya pada salah seorang kawannya yang banyak diam di kelas, bukan yang sering juara, pun selayaknya ia yang punya banyak ketidaktahuan.
“Dan, juara terbaik dengan nilai tertinggi pada Ujian Nasional kali ini diraih oleh Biru!”
Sontak saja seluruh penghuni kelas berseru riuh, penuh bangga bercampur rasa tak menyangka. Seorang Biru yang dikenal dengan diamnya, banyak kalahnya, dan tidak begitu terlihat di kelas, akhirnya meraih hal yang paling membanggakan orang-orang di sekitarnya.
Meskipun apresiasi dari sang ayah lagi-lagi tidak didapatinya, alih-alih demikian, kalimat yang dilontarkan kemudian membuat gadis kecil itu sadar, bahwa ia akan selalu menjadi karakter di tengah, atau jika di film, namanya karakter pendukung.
Biru janji, ia akan berikan sesuatu yang lebih besar nantinya.
Tahun 2022, kelulusan jenjang SMA sudah tiba.
“Setelah ini, mau kemana, ya?”
“Sepertinya tidak ada pilihan lain selain kerja. Orang seperti kita mau kuliah harus berpikir dua kali.”
Hening menghantarkan percakapan dua anak manusia yang rupanya dilanda kebingungan serta kepasrahan.
Biru salah satunya, yang sontak redup harapnya mendengar lontaran kalimat “orang seperti kita”. Ia membenarkan dalam hati, karena memang tak bisa dipungkiri, bahwa memang sulit bagi orang seadanya seperti dirinya sangat berat untuk menambah beban baru bagi orang tua mereka yang sudah menyekolahkan sampai jenjang SMA.
Dengan penuh rasa pasrah dan hati yang coba diluaskan, ia menerima untuk tidak melanjutkan studinya. Barangkali suatu saat ada jalannya.
Biru merantau, memutuskan untuk langsung bekerja. Ada sesuatu yang harus ia usahakan demi mimpinya. Tangis di depan ibu yang sempat ia sesali, akan coba ditepisnya kembali, dan menebus rasa gundah yang sempat ia beri pada ibu.
Dua tahun berlalu.
Sudah saatnya si gadis penuh ragu itu mencoba keluar dari segala ketidakmungkinan yang dirasanya. Jika terus bergelut dengan itu, Biru tidak akan pernah bangkit. Rasa tidak percaya dirinya kian surut, dan akhirnya kata menyerah yang harus ia lontarkan? Jangan pernah sebut namanya jika demikian. Jiwa kecil yang penuh ambisi itu akan terus hidup dalam diri seorang Biru.
“Aku mau daftar kuliah, Bu,” ucap Biru pada sang ibu tercinta.
Pun tanpa ragu, ibunya mengangguk percaya pada sang anak yang sering ia bekalkan dengan mantranya dalam bentuk doa. Keyakinan Biru pada Tuhan itu bersumber dari ibunya yang selalu menanamkan rasa percaya akan pertolongan Tuhan.
Bermodalkan gaji yang ia terima di hari terakhir kerjanya, gadis penuh diam itu mengisi persyaratan pendaftaran kuliah. Ia mengikuti segala proses daftar hingga ujiannya. Menunggu hingga hasilnya keluar, dan ya, hasil ujian menyatakan lulus. Saatnya untuk ke tahap yang juga wajib bagi setiap mahasiswa, yaitu membayar biaya perkuliahan mereka.
Ia terdiam, menyadari satu hal: bagaimana ia melunasi biaya perkuliahannya dengan sisa gajinya yang tidak seberapa itu. Biru merenung, batas pembayaran sudah semakin dekat harinya, dan ia harus mencari cara. Cukup sudah ia merelakan dua tahunnya menunda keinginannya untuk berkuliah. Tapi satu sisi, lagi-lagi sakit rasanya menyaksikan kepanikan ibu saat melihat tangis putus asa darinya.
“Ibu perlu ke sana, nak?” tanya ibu yang tidak tega melihat anaknya pasrah akan mimpinya. Perempuan itu ingin menemani dan merengkuh bahu yang meluruh bersamaan dengan rasa pasrahnya.
“Tidak perlu, Bu. Biru coba usahakan bagaimanapun supaya bisa membayar biayanya,” jawab Biru, mencoba membuat orang tuanya tidak ikut panik.
Dengan sedikit sekali rasa berani yang ia punya, Biru mendatangi staf bagian yang mengurusi biaya perkuliahan para mahasiswa, mencoba untuk mencari jalan keringanan.
“Saya ingin mengajukan penurunan biaya UKT, Bu,” ujarnya, setelah menjelaskan berbagai kendalanya mengenai biaya perkuliahannya.
“Begitu ya, nak.” Ada jeda sejenak sebelum staf tersebut melanjutkan kalimatnya. “Tapi sebetulnya, kuota untuk UKT 400 ribu sudah penuh.”
Staf tersebut menjelaskan bahwa biaya perkuliahan paling rendah adalah 400 ribu, dan itu merupakan subsidi dari kampus. Setiap yang mendapatkan pasti akan otomatis langsung tertera jumlah yang harus dibayarkan, yaitu 400 ribu, dan pasti akan dihubungi langsung dari pihak kampus, bukan mengajukan sebagaimana yang Biru tengah lakukan, karena itu kuota yang disediakan telah terisi penuh.
“Tapi karena kamu bilang namamu terdaftar pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial, saya bisa bantu kamu untuk itu. Namun kamu harus membuat surat keterangan terdaftarnya terlebih dahulu,” lanjut staf tersebut, setelah menimbang beberapa saat.
Sontak saja bahu yang tadinya merosot kembali menegak, senyum semangat Biru kembali terpatri. Ia mengangguk dan mengatakan, “Baik, Bu. Saya akan mengurusnya segera!”
“Iya, nak. Ibu tunggu sampai besok ya. Kamu bisa mengajukan pembuatan suratnya ke Dinas Sosial terdekat,” pungkasnya.
Hari itu juga, Biru mendatangi langsung Dinas Sosial untuk mengurusi surat tersebut. Ia mendatangi Dinas Sosial Daerah terlebih dahulu, namun rupanya mereka tidak bisa membuatkan karena anak itu bukan penduduk asli di sana. Kemudian tak berhenti di situ, Biru berpikir untuk mendatangi Dinas Sosial Provinsi, karena menurutnya Provinsi mencakup lebih luas dari Daerah.
Biru bergegas ke tempat tujuan keduanya. Sesampainya di sana, ia menyampaikan permohonan untuk dibuatkan surat tersebut. Terlihat dua orang laki-laki yang sedikit beradu argumen, yang satu mengatakan bahwa mereka tidak bisa membuatkan surat tersebut untuknya, kemudian yang satu mengatakan coba saja dulu diusahakan, karena mereka Dinas Provinsi tidak mungkin menolak dengan alasan karena Biru bukan penduduk asli di sana.
Setelah lama mendengar keduanya beradu argumen, terlihat salah satu dari mereka berjalan ke dalam ruangan. Selang beberapa menit kemudian, lelaki yang tadi masuk ke ruangan kembali mendekati Biru dan menjelaskan kembali, bahwa mereka tidak bisa membuatkan surat tersebut untuknya tanpa ada rekomendasi dari tempat Biru tinggal.
“Maaf sekali ya, dek. Rupanya kamu orang ketiga yang datang dengan tujuan yang sama, dan dari kami memang tidak bisa membuatkan. Kamu bisa langsung mengajukan ke Kabupaten untuk hal itu, maaf ya!” terang orang tersebut.
Mengangguk lesu, Biru kemudian mengucapkan terima kasih lalu beranjak dari sana. Tanpa menunggu lama, gadis itu kembali menuju rumah dengan menaiki ojek. Ia memejamkan matanya yang mulai berkaca-kaca, bahunya kembali merosot pasrah. Setelah sampainya di rumah, Biru menghubungi sang ibu dan meminta bantuan untuk coba dibuatkan dari Desa saja surat yang sebagaimana dimintai dari pihak kampus yang akan ia masuki.
Tentu banyak sekali rintangan selama pembuatan secarik surat yang ia butuhkan. Mulai dari pihak Desa yang salah membuat keterangan pada suratnya, hingga Pemerintah Desa yang sulit ditemui. Namun setelahnya, usaha sang ibu membuahkan hasil. Begitu surat tersebut sudah diperbaiki dan mendapat tanda tangan dari pemerintah Desa, tanpa berlama-lama, mereka mengirimkan secarik kertas yang bagi Biru sangat berharga waktu itu.
Waktu tersisa dua hari. Tentu saja Biru tidak akan mengulur waktunya. Ia kembali mendatangi pihak kampus dan menyampaikan berbagai kendalanya.
Staf yang ia temui pertama kali, terlihat menatap lama dengan raut berpikir pada secarik kertas berisi keterangan yang ia mintakan.
“Nak, bukan surat seperti ini sebetulnya yang saya maksudkan.”
Biru diam, ia paham bahwa hal ini pasti akan terjadi. Namun kalimat yang dilontarkan selanjutnya membuat buru menegakkan kembali kepalanya yang sempat tertunduk.
“Tapi sudahlah, tidak apa, saya terima suratnya, ya.” Kemudian terlihat staf tersebut bergulat dengan laptop di depannya. Biru masih terdiam, heran pada apa yang tengah dilakukan wanita tersebut.
“Nah, selesai. Silahkan bayar UKT-mu, Ibu sudah mengubah jumlahnya menjadi empat ratus ribu,” pungkasnya, yang tentu saja tidak dapat dihindari oleh Biru senyumnya.
Gadis itu berdiri, kemudian mengucapkan kata terima kasih berkali-kali dengan raut bahagianya yang tidak surut. Bahkan sampai di luar ruangan pun ia terus tersenyum, meski matanya kembali berkaca-kaca karena haru. Ia kemudian menghampiri beberapa calon mahasiswa yang tengah mengantri untuk membayar UKT. Lagi-lagi masih dengan senyumnya yang tidak surut.
Seminggu setelahnya, Pengenalan Budaya dan Akademik Kampus sudah berlangsung.
Dalam gedung auditorium, dengan begitu banyak peserta yang sudah dinyatakan sebagai mahasiswa di dalamnya, Biru memandang penuh haru pada jas almamater di tangannya yang hendak mereka kenakan. Ia membuka lipatan jas tersebut mengikuti instruksi dari seseorang yang tengah berbicara di panggung untuk mengarahkan semua mahasiswa mengenakan jas almamater mereka.
Dengan serentak semua mengenakan jas tersebut. Biru tahu betul, ini bukan akhir dari cerita perjalanan pendidikannya, melainkan awal dari segalanya: awal dari pembentukan dirinya, awal dari pendewasaan, dan berbagai cerita suka duka dunia perkuliahan yang ia tapaki sebagai tangga menuju mimpi dan citanya kelak.
Selamat kepada Biru, dan mari doakan semoga ia kuat sampai tamat.Mari berkenalan dengan Biru, yang masih mencari tujuan namun tak kunjung mendapati titik temu.
Tahun 2016, pengumuman nilai terbaik hasil Ujian Nasional di Sekolah Dasar Bintang.
“Ibu akan bacakan nama juara terbaik dengan nilai Ujian Nasional terbaik pada tahun ini.”
Sontak saja seluruh pandang tertuju pada Fajar, si ambis nan hebatnya kelas 6 pada saat itu. Tidak heran mengapa semua menerka hal yang sama, siapa lagi sang juara kelas kalau bukan ia. Sahutan terdengar pada setiap sudut kelas, setiap bangku dan meja yang dijajar tidak terlalu berdekatan itu, hanya berselang sejenak, kemudian menjadi hening ketika mendengar penuturan selanjutnya dari Kepala Sekolah.
“Tapi kali ini, kalian tidak akan menyangka siapa si juara terbaik kita,” pungkasnya.
Ada jeda di sana, sesaat sebelum menyebutkan nama di balik tanda tanya murid-murid kelas 6 yang akan segera menuju kelulusannya. Kemudian, Biru mengedarkan pandangannya pada salah seorang kawannya yang banyak diam di kelas, bukan yang sering juara, pun selayaknya ia yang punya banyak ketidaktahuan.
“Dan, juara terbaik dengan nilai tertinggi pada Ujian Nasional kali ini diraih oleh Biru!”
Sontak saja seluruh penghuni kelas berseru riuh, penuh bangga bercampur rasa tak menyangka. Seorang Biru yang dikenal dengan diamnya, banyak kalahnya, dan tidak begitu terlihat di kelas, akhirnya meraih hal yang paling membanggakan orang-orang di sekitarnya.
Meskipun apresiasi dari sang ayah lagi-lagi tidak didapatinya, alih-alih demikian, kalimat yang dilontarkan kemudian membuat gadis kecil itu sadar, bahwa ia akan selalu menjadi karakter di tengah, atau jika di film, namanya karakter pendukung.
Biru janji, ia akan berikan sesuatu yang lebih besar nantinya.
Tahun 2022, kelulusan jenjang SMA sudah tiba.
“Setelah ini, mau kemana, ya?”
“Sepertinya tidak ada pilihan lain selain kerja. Orang seperti kita mau kuliah harus berpikir dua kali.”
Hening menghantarkan percakapan dua anak manusia yang rupanya dilanda kebingungan serta kepasrahan.
Biru salah satunya, yang sontak redup harapnya mendengar lontaran kalimat “orang seperti kita”. Ia membenarkan dalam hati, karena memang tak bisa dipungkiri, bahwa memang sulit bagi orang seadanya seperti dirinya sangat berat untuk menambah beban baru bagi orang tua mereka yang sudah menyekolahkan sampai jenjang SMA.
Dengan penuh rasa pasrah dan hati yang coba diluaskan, ia menerima untuk tidak melanjutkan studinya. Barangkali suatu saat ada jalannya.
Biru merantau, memutuskan untuk langsung bekerja. Ada sesuatu yang harus ia usahakan demi mimpinya. Tangis di depan ibu yang sempat ia sesali, akan coba ditepisnya kembali, dan menebus rasa gundah yang sempat ia beri pada ibu.
Dua tahun berlalu.
Sudah saatnya si gadis penuh ragu itu mencoba keluar dari segala ketidakmungkinan yang dirasanya. Jika terus bergelut dengan itu, Biru tidak akan pernah bangkit. Rasa tidak percaya dirinya kian surut, dan akhirnya kata menyerah yang harus ia lontarkan? Jangan pernah sebut namanya jika demikian. Jiwa kecil yang penuh ambisi itu akan terus hidup dalam diri seorang Biru.
“Aku mau daftar kuliah, Bu,” ucap Biru pada sang ibu tercinta.
Pun tanpa ragu, ibunya mengangguk percaya pada sang anak yang sering ia bekalkan dengan mantranya dalam bentuk doa. Keyakinan Biru pada Tuhan itu bersumber dari ibunya yang selalu menanamkan rasa percaya akan pertolongan Tuhan.
Bermodalkan gaji yang ia terima di hari terakhir kerjanya, gadis penuh diam itu mengisi persyaratan pendaftaran kuliah. Ia mengikuti segala proses daftar hingga ujiannya. Menunggu hingga hasilnya keluar, dan ya, hasil ujian menyatakan lulus. Saatnya untuk ke tahap yang juga wajib bagi setiap mahasiswa, yaitu membayar biaya perkuliahan mereka.
Ia terdiam, menyadari satu hal: bagaimana ia melunasi biaya perkuliahannya dengan sisa gajinya yang tidak seberapa itu. Biru merenung, batas pembayaran sudah semakin dekat harinya, dan ia harus mencari cara. Cukup sudah ia merelakan dua tahunnya menunda keinginannya untuk berkuliah. Tapi satu sisi, lagi-lagi sakit rasanya menyaksikan kepanikan ibu saat melihat tangis putus asa darinya.
“Ibu perlu ke sana, nak?” tanya ibu yang tidak tega melihat anaknya pasrah akan mimpinya. Perempuan itu ingin menemani dan merengkuh bahu yang meluruh bersamaan dengan rasa pasrahnya.
“Tidak perlu, Bu. Biru coba usahakan bagaimanapun supaya bisa membayar biayanya,” jawab Biru, mencoba membuat orang tuanya tidak ikut panik.
Dengan sedikit sekali rasa berani yang ia punya, Biru mendatangi staf bagian yang mengurusi biaya perkuliahan para mahasiswa, mencoba untuk mencari jalan keringanan.
“Saya ingin mengajukan penurunan biaya UKT, Bu,” ujarnya, setelah menjelaskan berbagai kendalanya mengenai biaya perkuliahannya.
“Begitu ya, nak.” Ada jeda sejenak sebelum staf tersebut melanjutkan kalimatnya. “Tapi sebetulnya, kuota untuk UKT 400 ribu sudah penuh.”
Staf tersebut menjelaskan bahwa biaya perkuliahan paling rendah adalah 400 ribu, dan itu merupakan subsidi dari kampus. Setiap yang mendapatkan pasti akan otomatis langsung tertera jumlah yang harus dibayarkan, yaitu 400 ribu, dan pasti akan dihubungi langsung dari pihak kampus, bukan mengajukan sebagaimana yang Biru tengah lakukan, karena itu kuota yang disediakan telah terisi penuh.
“Tapi karena kamu bilang namamu terdaftar pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial, saya bisa bantu kamu untuk itu. Namun kamu harus membuat surat keterangan terdaftarnya terlebih dahulu,” lanjut staf tersebut, setelah menimbang beberapa saat.
Sontak saja bahu yang tadinya merosot kembali menegak, senyum semangat Biru kembali terpatri. Ia mengangguk dan mengatakan, “Baik, Bu. Saya akan mengurusnya segera!”
“Iya, nak. Ibu tunggu sampai besok ya. Kamu bisa mengajukan pembuatan suratnya ke Dinas Sosial terdekat,” pungkasnya.
Hari itu juga, Biru mendatangi langsung Dinas Sosial untuk mengurusi surat tersebut. Ia mendatangi Dinas Sosial Daerah terlebih dahulu, namun rupanya mereka tidak bisa membuatkan karena anak itu bukan penduduk asli di sana. Kemudian tak berhenti di situ, Biru berpikir untuk mendatangi Dinas Sosial Provinsi, karena menurutnya Provinsi mencakup lebih luas dari Daerah.
Biru bergegas ke tempat tujuan keduanya. Sesampainya di sana, ia menyampaikan permohonan untuk dibuatkan surat tersebut. Terlihat dua orang laki-laki yang sedikit beradu argumen, yang satu mengatakan bahwa mereka tidak bisa membuatkan surat tersebut untuknya, kemudian yang satu mengatakan coba saja dulu diusahakan, karena mereka Dinas Provinsi tidak mungkin menolak dengan alasan karena Biru bukan penduduk asli di sana.
Setelah lama mendengar keduanya beradu argumen, terlihat salah satu dari mereka berjalan ke dalam ruangan. Selang beberapa menit kemudian, lelaki yang tadi masuk ke ruangan kembali mendekati Biru dan menjelaskan kembali, bahwa mereka tidak bisa membuatkan surat tersebut untuknya tanpa ada rekomendasi dari tempat Biru tinggal.
“Maaf sekali ya, dek. Rupanya kamu orang ketiga yang datang dengan tujuan yang sama, dan dari kami memang tidak bisa membuatkan. Kamu bisa langsung mengajukan ke Kabupaten untuk hal itu, maaf ya!” terang orang tersebut.
Mengangguk lesu, Biru kemudian mengucapkan terima kasih lalu beranjak dari sana. Tanpa menunggu lama, gadis itu kembali menuju rumah dengan menaiki ojek. Ia memejamkan matanya yang mulai berkaca-kaca, bahunya kembali merosot pasrah. Setelah sampainya di rumah, Biru menghubungi sang ibu dan meminta bantuan untuk coba dibuatkan dari Desa saja surat yang sebagaimana dimintai dari pihak kampus yang akan ia masuki.
Tentu banyak sekali rintangan selama pembuatan secarik surat yang ia butuhkan. Mulai dari pihak Desa yang salah membuat keterangan pada suratnya, hingga Pemerintah Desa yang sulit ditemui. Namun setelahnya, usaha sang ibu membuahkan hasil. Begitu surat tersebut sudah diperbaiki dan mendapat tanda tangan dari pemerintah Desa, tanpa berlama-lama, mereka mengirimkan secarik kertas yang bagi Biru sangat berharga waktu itu.
Waktu tersisa dua hari. Tentu saja Biru tidak akan mengulur waktunya. Ia kembali mendatangi pihak kampus dan menyampaikan berbagai kendalanya.
Staf yang ia temui pertama kali, terlihat menatap lama dengan raut berpikir pada secarik kertas berisi keterangan yang ia mintakan.
“Nak, bukan surat seperti ini sebetulnya yang saya maksudkan.”
Biru diam, ia paham bahwa hal ini pasti akan terjadi. Namun kalimat yang dilontarkan selanjutnya membuat buru menegakkan kembali kepalanya yang sempat tertunduk.
“Tapi sudahlah, tidak apa, saya terima suratnya, ya.” Kemudian terlihat staf tersebut bergulat dengan laptop di depannya. Biru masih terdiam, heran pada apa yang tengah dilakukan wanita tersebut.
“Nah, selesai. Silahkan bayar UKT-mu, Ibu sudah mengubah jumlahnya menjadi empat ratus ribu,” pungkasnya, yang tentu saja tidak dapat dihindari oleh Biru senyumnya.
Gadis itu berdiri, kemudian mengucapkan kata terima kasih berkali-kali dengan raut bahagianya yang tidak surut. Bahkan sampai di luar ruangan pun ia terus tersenyum, meski matanya kembali berkaca-kaca karena haru. Ia kemudian menghampiri beberapa calon mahasiswa yang tengah mengantri untuk membayar UKT. Lagi-lagi masih dengan senyumnya yang tidak surut.
Seminggu setelahnya, Pengenalan Budaya dan Akademik Kampus sudah berlangsung.
Dalam gedung auditorium, dengan begitu banyak peserta yang sudah dinyatakan sebagai mahasiswa di dalamnya, Biru memandang penuh haru pada jas almamater di tangannya yang hendak mereka kenakan. Ia membuka lipatan jas tersebut mengikuti instruksi dari seseorang yang tengah berbicara di panggung untuk mengarahkan semua mahasiswa mengenakan jas almamater mereka.
Dengan serentak semua mengenakan jas tersebut. Biru tahu betul, ini bukan akhir dari cerita perjalanan pendidikannya, melainkan awal dari segalanya: awal dari pembentukan dirinya, awal dari pendewasaan, dan berbagai cerita suka duka dunia perkuliahan yang ia tapaki sebagai tangga menuju mimpi dan citanya kelak.
Selamat kepada Biru, dan mari doakan semoga ia kuat sampai tamat.







