Oleh: Afra’im
Wartawan LPM Qalamun
Musim dingin adalah pelarian,
dari rujuk rasa kebosanan asa —
terhadap janji yang fana,
yang sempat memukau,
namun berakhir menjadi luka di ujung kata.
Akankah ini akhir dari segalanya?
Dari awal hingga penutup cerita,
rasa yang dulu begitu indah di puncak bahagia,
kini runtuh oleh janji yang palsu maknanya.
Dalam tragedi cemburu buta,
rasa yang hampir punah kulampiaskan,
dengan berbisik pada tanah —
saksi setiaku dalam keheningan,
saat tak ada satu pun telinga
yang sudi mendengarkan.
Harga yang mesti dibayar atas perjuangan
adalah kesediaan menerima segala kemungkinan.
Namun, bersetia pada janji
kadang menghadiahkan musim semi,
sebagai kado paling manis dari luka yang terpuji.
Perjalanan selalu menjadi rumah —
tempatku membasuh luka,
menyemai harapan,
dan memulihkan keriangan hidup.
Tanpa perlu arti sebuah pasangan,
tanpa harus berubah demi pandangan,
sebab mereka hanya membaca dari sampul cerita,
tanpa pernah menanyakan siapa penulisnya.







