Oleh : Abd. Fattah
Pengurus Redaksional
Ketika hati perlahan mengarah padamu
Madika selalu percaya bahwa beberapa pertemuan dalam hidup diciptakan bukan untuk dijadwalkan, melainkan dibiarkan terjadi. Namun, ketika ia melihat Nuwairah untuk pertama kalinya, ia merasa hidup sedang bercanda. Semua hal yang selama ini menurutnya tidak mungkin, tiba-tiba tampak seperti sesuatu yang sedang diarahkan langsung kepadanya.
Pagi itu di kampus, angin bergerak pelan di antara deretan pohon angsana. Mahasiswa berlalu-lalang, sebagian sibuk dengan tugas, sebagian lagi sekadar mencari tempat duduk untuk mengobrol. Madika berdiri di depan gedung fakultas, menunggu temannya, ketika matanya menemukan sosok perempuan berkerudung pastel yang sedang duduk di bangku taman. Ia membaca buku sambil sesekali mengibaskan ujung jilbabnya yang tertiup angin.
Nama disampul buku itu mencolok: Nuwairah H.
Baru melihat namanya saja, Madika merasa dadanya bergetar tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
“Oi, Lagi liatin apa?” tanya Seno tiba-tiba, menepuk bahunya dari belakang.
“Eh anu… enggak, cuma lihat-lihat,” jawab Madika, buru-buru menoleh agar tidak ketahuan sedang memperhatikan seseorang.
Namun terlambat. Seno mengikuti arah pandangan temannya dan langsung menyeringai.
“Ah… saya paham. Yang duduk di taman itu ya? Itu Nuwairah. Anak Sastra. Pintar… cantik… tapi katanya agak sulit didekati.”
Madika mengernyit. “Sulit bagaimana?”
“Ya, kamu lihat nanti.”
Dan kalimat itu benar Madika melihatnya nanti. Berkali-kali.
________________________________________
Perpustakaan
Madika tidak pernah benar-benar berniat mencari Nuwairah, tetapi entah bagaimana, takdir justru sering mempertemukan mereka.
Di perpustakaan, Nuwairah duduk sendirian di pojok, dikelilingi beberapa buku. Di depannya ada sekitar tiga lembar kertas berisi catatan bahasa Arab. Guratan tulisannya rapi, teratur, dan indah.
Madika mengambil tempat duduk dua meja dari sana, berpura-pura membaca, tetapi sesungguhnya ia lebih banyak mencuri pandang.
Saat Nuwairah bangkit untuk mengembalikan buku, sebuah map jatuh dan berhamburan ke lantai. Tanpa berpikir, Madika spontan berdiri.
“Sini… biar saya bantu,” katanya.
Nuwairah terkejut, tetapi tersenyum kecil. “Oh terima kasih, ya.”
Untuk pertama kalinya, Madika melihat senyumnya dari jarak dekat. Senyum yang lembut, seperti garis tipis cahaya yang merambat masuk ke ruang-ruang gelap dalam dirinya.
“Nama saya Madika,” katanya gugup.
Nuwairah mengangguk sopan. “Nuwairah,” Panggil aja “Uwa”.
Suara itu sehalus namanya. Mereka saling menatap sebentar yang terasa terlalu lama bagi Madika, namun sangat singkat untuk hatinya.
Setelah membantu mengumpulkan semuanya, Madika mengulur waktu.
“Kamu sering di perpustakaan?” tanya Madika.
“Sering. Tempat paling tenang,” jawab Nuwairah.
“Oh… sama. Saya juga suka tempat tenang.”
Nuwairah tersenyum tipis lagi, tapi kali ini ia tidak memberi komentar apa pun. Ia membereskan barangnya dan berkata, “Terima kasih sudah bantu. Saya pergi dulu ya.”
Dan seperti itu, ia berlalu.
Singkat. Halus. Rapi. Seolah ia memang benar kata Seno bukannya sulit didekati, tetapi sulit untuk tahu apakah dia memberi ruang.
________________________________________
Hujan
Hujan kadang membawa orang-orang yang seharusnya bertemu.
Sore itu, kampus baru saja selesai jadwal kuliah. Langit tiba-tiba gelap, dan tanpa peringatan, hujan turun deras. Mahasiswa berhamburan mencari tempat berteduh. Madika berlari masuk ke selasar gedung ketika ia melihat seseorang berdiri sendirian memegang payung kecil yang tampak rusak.
Dan itu adalah Nuwairah.
Madika, entah kenapa, merasa keberanian naik begitu saja. Ia mendekat sambil mengangkat tangan ke depan wajah agar air tak terlalu menampar.
“Uwaaa!” panggilnya.
Nuwairah menoleh. Raut wajahnya menunjukkan kekagetan dan sedikit lega.
“Kamu sendirian?” tanya Madika.
“Iya. Payungku patah. Hahaha… nasib.”
Madika mengangkat payung lipat yang ia bawa. “Kalau mau, kita pulang bareng. Kita satu arah, kan?”
Nuwairah sempat terdiam. Tidak menolak, tetapi tidak langsung menerima.
Kemudian ia mengangguk pelan. “Kalau tidak merepotkan.”
“Tidak sama sekali. Malah… senang.”
Nuwairah tersenyum. Payung pun terbuka. Mereka berjalan berdampingan, jarak sangat dekat sampai Madika bisa merasakan aroma parfum lembut dari tubuh perempuan itu.
Hujan menimbulkan suara gemericik yang indah. Tanah mengeluarkan bau petrichor yang hangat. Dan di tengah itu semua, Madika merasa hidup sedang mengizinkannya mencuri sedikit waktu bersama seseorang yang selama ini hanya ia perhatikan dari jauh.
“Madika…” Nuwairah memecah keheningan. “Kenapa kamu selalu muncul saat aku butuh bantuan?”
Madika terkesiap. “Eh… kebetulan saja.”
Nuwairah terkekeh. “Kebetulan yang aneh.”
“Kalau begitu… mungkin takdir,” gumam Madika, sambil menunduk supaya kata-katanya tidak terdengar terlalu berani.
Nuwairah pura-pura tidak mendengar, tetapi pipinya sedikit merona.
________________________________________
Berjalan di Antara Rasa
Sejak hari hujan itu, hubungan mereka berkembang. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan seperti bunga yang mekar mengikuti matahari.
Mereka sering bertemu kadang di taman, kadang di perpustakaan, kadang di kantin.
Madika mulai menemukan betapa uniknya Nuwairah.
Ia bukan tipe yang banyak bicara, tetapi ketika ia bercerita, kata-katanya selalu indah. Ia bukan tipe yang mudah tertawa, tetapi ketika ia tertawa, rasanya dunia ikut cerah. Ia bukan tipe yang menonjol, tetapi kehadirannya selalu membuat Madika ingin memperhatikannya.
Suatu siang, mereka belajar bersama di perpustakaan.
“Madika,” kata Nuwairah, “kenapa kamu belajar serius sekali?”
Madika tersenyum. “Supaya kamu tidak jauh di depan.”
Nuwairah tertawa pelan. “Aku tidak pernah merasa di depan, kok.”
“Itu karena kamu rendah hati. Padahal kamu pintar.”
Nuwairah menatapnya. Lama. Seolah sedang mencari sesuatu dalam diri Madika.
“Kamu selalu bicara hal-hal yang membuat orang lain percaya diri,” katanya. “Aku suka itu.”
Madika terdiam. Pipinya memanas. Hatinya memukul-mukul dadanya seperti hendak keluar.
Ucapan itu terasa seperti bunga yang tiba-tiba tumbuh di padang kosong.
________________________________________ Jarak dalam Keheningan
Namun, tidak semua cerita berkembang mulus.
Pada suatu sore, Madika melihat Nuwairah keluar dari kelas bersama seorang junior laki-laki. Laki-laki itu menawarinya minum dan bercanda dengan akrab. Nuwairah tersenyum lebih lebar daripada biasanya.
Rasanya ada sesuatu yang jatuh di dalam dada Madika.
Ia tidak ingin berpikiran buruk, tetapi ia manusia. Ia sempat mundur beberapa langkah, tidak menghubungi Nuwairah selama dua hari. Bahkan ketika Nuwairah mengirim pesan:
“Dika, kamu sibuk ya akhir-akhir ini?”
“kamu nggak papa?”
Madika hanya membalas singkat.
“Lagi banyak tugas.”
Nuwairah tidak memaksa. Namun, pada hari ketiga, ketika Madika duduk sendirian di taman kampus, Nuwairah datang menghampiri tanpa suara. Ia berdiri di depan Madika, memegang buku catatannya.
“Kenapa menjauh?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Madika tersentak. “Eh… aku nggak menjauh. Cuma… sibuk.”
Nuwairah duduk. Matanya menatap lurus, tajam tetapi lembut.
“Kamu marah?”
“Tidak,” jawab Madika cepat. Terlalu cepat.
Nuwairah menatapnya lebih lama. “Ini karena Si Arman?”
Madika membeku. “A-apa?”
Nuwairah menarik napas. “Aku lihat kamu melihat aku waktu itu. Dan setelah itu kamu berubah.”
Madika meremas ujung bajunya. “Aku cuma… ya… mungkin salah lihat.”
Nuwairah menunduk. Kemudian ia berkata, pelan tetapi sangat jelas:
“Madika… Arman cuma junior yang kasih aku bahan materi seminar. Tidak lebih.”
Madika mengangkat kepala. “Tapi… kamu tersenyum ke dia.”
Nuwairah menghela napas. “Aku tersenyum ke siapa pun yang bersikap baik. Itu bukan berarti aku menyukai orang itu.”
Keheningan jatuh. Lalu tiba-tiba Nuwairah bertanya:
“Kenapa kamu peduli sampai seperti itu?”
Pertanyaan itu seperti pintu yang dibuka mendadak.
Madika menelan ludah. Ia tidak siap, tetapi ia juga tidak ingin berbohong.
“Aku… takut kehilangan kamu,” jawabnya akhirnya.
Nuwairah membelalakkan mata. “Kehilangan? Kita belum punya apa-apa untuk hilang, Madika.”
Madika tersentak seperti sedang ditegur petir.
Nuwairah melanjutkan. “Kalau kamu ingin aku tetap ada… jangan menjauh hanya karena cemburu.”
Madika membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar.
Nuwairah kemudian tersenyum kecil. “Kamu boleh cemburu… tapi jangan tinggalkan aku.”
Kalimat itu menghancurkan, memperbaiki, dan menghidupkan kembali hati Madika dalam satu detik.
________________________________________Pernyataan yang Selama Ini Tertahan
Malam itu, setelah pulang dari kampus, Madika duduk di meja belajarnya. Kata-kata Nuwairah terus terulang.
Aku tidak ingin kamu menjauh…
Jangan tinggalkan aku…
Hatinya tidak bisa tenang.
Keesokan harinya, ia mengajak Nuwairah ke taman kampus saat senja. Langit jingga keemasan, dan angin lembut bertiup di antara daun-daun.
Nuwairah duduk di bangku. “Ada apa?”
Madika berdiri beberapa langkah di depannya. Ia bahkan bisa merasakan gemetar di lututnya.
“Aku mau bilang sesuatu,” katanya.
Nuwairah menatapnya dengan wajah serius.
Madika menarik napas panjang.
“Nuwairah… selama ini aku berusaha mengerti kamu. Mengagumimu. Memperhatikanmu dari jauh. Dan semakin lama, semua itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kekaguman.”
Nuwairah terdiam.
“Aku suka kamu,” lanjut Madika, suaranya bergetar tetapi jelas. “Bukan sebagai teman. Tapi… lebih dari itu.”
Angin berhenti seolah ikut mendengarkan.
Nuwairah memejamkan mata sebentar sebelum menatap Madika lagi.
“Madika… aku tahu arah perasaanmu sejak lama.”
Madika tersentak. “Kamu tahu?”
Nuwairah mengangguk. “Aku hanya menunggu kapan kamu akan mengatakan sendiri.”
“kamu… marah?”
Nuwairah menggeleng. “Tidak.”
Ia berdiri. Membuat jarak di antara mereka hilang.
“Tapi… aku butuh waktu,” katanya pelan. “Aku bukan orang yang mudah membuka hati. Aku harus memastikan semuanya tidak salah langkah.”
Madika menelan rasa kecewa yang samar, tetapi juga ada kehangatan di balik kata-kata itu.
“Aku akan menunggu,” jawabnya.
Nuwairah tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyumnya terlihat penuh ketenangan dan kejujuran.
“Aku tahu,” katanya. “Dan mungkin… aku juga sedang berjalan ke arah yang sama.”
________________________________________
Langkah Kecil yang Bermakna
Sejak hari itu, mereka tidak berubah menjadi pasangan seketika. Tidak ada drama besar, tidak ada kejadian mendadak. Namun, langkah-langkah kecil mulai terasa.
Nuwairah menjadi lebih terbuka. Madika menjadi lebih sabar. Waktu-waktu yang mereka bagi menjadi lebih hangat dan jujur.
Hubungan mereka seperti hujan rintik yang perlahan berubah menjadi pelangi—tenang, indah, dan tidak tergesa-gesa.
Dan suatu sore, ketika mereka duduk berdampingan membaca di taman kampus, Nuwairah berkata tanpa menoleh:
“Madika… terima kasih karena tidak menyerah.”
Madika tersenyum.
“Aku tidak akan menyerah,” jawabnya.
Nuwairah menutup buku, memandang Madika, dan berkata dengan suara lembut:
“Kalau begitu… mari kita mulai berjalan bersama.”
Dan sejak kalimat itu, langkah-langkah menuju Nuwairah tidak lagi terasa berat. Karena kini, mereka berjalan beriringan.
Bersambung …







