Home OPINI Membongkar Tabir Kekerasan: Suara Mahasiswa Melawan Pelecehan di Universitas Islam Negeri ...

Membongkar Tabir Kekerasan: Suara Mahasiswa Melawan Pelecehan di Universitas Islam Negeri Datokarama Palu

141
0

Oleh : Muhammad Jibril Paendong
Wartawan Magang

Kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang mencuat di Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu beberapa waktu terakhir bukan sekadar catatan kelam. Ini adalah alarm nyata bahwa ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman untuk berpikir, belajar, dan berkembang, justru berubah menjadi tempat di mana sebagian mahasiswa merasa takut,tertekan bahkan kehilangan keberanian untuk bersuara.

Fakta-fakta yang muncul bukan lagi gosip lorong. Mahasiswa sendiri yang mulai berani menceritakan pengalaman mereka—bagaimana seorang dosen bisa dengan mudah menyalahgunakan posisi kuasa, bagaimana aduan mahasiswa sering diabaikan, dan bagaimana korban harus menanggung trauma sementara pelaku tetap bebas mengajar seolah tidak terjadi apa-apa. Situasi ini menunjukkan adanya budaya diam yang sudah terlalu lama di biarkan.

Budaya senioritas, relasi kuasa, dan takut nilai rendah sering membuat mahasiswa memilih bungkam. Apalagi ketika kasus pelecehan justru dianggap sebagai ‘urusan pribadi’ dan bukan pelanggaran berat yang merusak martabat akademik. Padahal kampus mestinya menjadi ruang aman—safe campus—bukan ruang yang membuat mahasiswa harus waspada setiap kali berhadapan dengan orang-orang yang memiliki posisi otoritas.

Mahasiswa UIN Datokarama Palu mulai menunjukkan perlawanan. Suara-suara mulai dikencangkan: aksi, petisi, dan diskusi publik mulai bermunculan. Mereka menuntut sistem pelaporan yang transparan, mekanisme penanganan korban yang manusiawi, dan sanksi tegas bagi pelaku tanpa pandang bulu. Karena jika kampus hanya sibuk menjaga citra, maka mereka secara sadar mengorbankan keamanan mahasiswa demi reputasi semu.

Sudah saatnya kampus berhenti menutupi kasus pelecehan atas nama menjaga nama baik institusi. Nama baik justru lahir dari keberpihakan kepada korban dan keberanian mengambil tindakan tegas. Universitas tidak boleh hanya bangga pada visi keislaman, tetapi gagal menjaga nilai kemanusiaan.

Suara mahasiswa hari ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Ini bukan hanya tentang sebuah kasus, melainkan tentang masa depan kampus. Jika kekerasan dibiarkan, maka ruang akademik akan terus direproduksi sebagai tempat yang tidak aman, terutama bagi perempuan.

Perubahan tidak akan terjadi jika hanya ditunggu. Mahasiswa, sebagai elemen paling besar di kampus, harus terus bersuara. Kampus harus mendengar dan pelaku harus bertanggung jawab.

Tabir kekerasan di UIN Datokarama Palu tidak bisa lagi ditutup. Ini saatnya membongkar, memperbaiki, dan membangun kampus yang benar-benar aman bagi semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here