Oleh: Moh Yusuf
Wartawan LPM Qalamun
Pagi itu, matahari belum tinggi ketika aldy melangkah masuk ke gerbang kampus. Udara masih segar, sisa embun menempel di dedaunan yang berjajar di sisi jalan. Mahasiswa lain juga mulai berdatangan, dengan langkah tergesa atau santai, tergantung jadwal kuliah masing-masing.
Aldy menyandarkan tubuhnya sejenak di bangku taman depan gedung fakultas. Ia membuka buku catatannya, mencoba membaca ulang materi ilmu falaq yang akan diujiankan pagi ini. Tapi pikirannya malah melayang ke hal lain: tugas kelompok yang belum selesai, presentasi minggu depan, dan uang kos yang mulai menipis.
Tak lama, suara khas datang dari belakangnya.
“Belajar keras banget, aldy Santai dikit, nanti malah lupa semua pas ujian,” celetuk fardhan, sahabat sekaligus partner tugas kelompoknya.
Aldy hanya tersenyum tipis. “Kalau santai terus kayak kamu, bisa-bisa aku ulang mata kuliah ini.”
Fardhan tertawa sambil duduk di sebelahnya. Mereka berdua memang sering berbeda gaya belajar—Aldy tipe yang tekun dan terjadwal, sementara Fardhan lebih spontan dan santai. Tapi entah kenapa, mereka selalu cocok kalau kerja bareng.
Jam menunjukkan pukul 07.30. Mahasiswa mulai berbondong-bondong masuk ke ruang kelas. Suasana berubah jadi lebih serius. Dosen datang membawa tumpukan kertas ujian, lalu membagikannya satu per satu.
“Waktu 90 menit. Kerjakan dengan jujur. Yang menyontek, saya coret dari daftar hadir,” ujar dosen sambil berjalan ke meja depan.
Aldy menarik napas dalam, lalu mulai mengerjakan soal-soal. Beberapa mudah, tapi ada juga yang membuat alisnya berkerut. Sesekali ia melirik ke arah Fardhan yang duduk di sudut kanan depan. Seperti biasa, ekspresi fardhan tetap santai, meski belum tentu jawabannya benar.
Selesai ujian, mereka berdua keluar bareng, langsung menuju kantin kampus. Tempat itu adalah “zona damai” setelah stres akademik. Suasana riuh, meja penuh, dan aroma kopi serta gorengan memenuhi udara.
“Lega nggak?” tanya fardhan sambil menyeruput es teh.
“Lumayan. Tapi jangan tanya nomor lima. Kayaknya aku ngarang,” jawab Aldy sambil tertawa kecil.
Mereka duduk di sana cukup lama, membahas hal-hal remeh—dari rencana liburan, drama kampus, sampai obrolan soal masa depan yang belum pasti. Di antara tekanan tugas, skripsi yang menanti, dan rutinitas kuliah yang kadang membosankan, momen-momen sederhana seperti ini jadi pengingat bahwa hidup kampus bukan cuma soal nilai.
Kadang, kehidupan kampus terasa berat. Tapi di sela-sela jadwal padat, ada tawa bersama teman, ada obrolan yang membuat lupa waktu, dan ada semangat yang tetap menyala karena mimpi-mimpi yang ingin dicapai.
Dan pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya di sudut kampus, aldy kembali merasa: ini memang tidak mudah, tapi ia tahu, ia berada di tempat yang tepat.







