Home NASIONAL “Pesta Babi” Kontroversial di Sejumlah Daerah, Mahasiswa FDKI UIN Datokarama Justru Buka...

“Pesta Babi” Kontroversial di Sejumlah Daerah, Mahasiswa FDKI UIN Datokarama Justru Buka Ruang Diskusi

3
0

PALU, LPMQALAMUN.com — Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) UIN Datokarama Palu menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi di Lacrema Kahve, pada Senin (18/05/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kepekaan sosial mahasiswa dan masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.

Ketua Dema FDKI, Muhammad Rifal Ayyuba, mengatakan kegiatan itu dilatarbelakangi rasa penasaran panitia terhadap maraknya pembubaran pemutaran film Pesta Babi di sejumlah daerah.

“Kalau kita lihat di beberapa daerah, pemutaran film ini sampai dibubarkan, bahkan mengalami diskriminasi. Itu yang membuat kami bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuat film ini sampai dibubarkan,” ungkap Rifal.

Ia mengatakan, setelah dipelajari lebih lanjut, terdapat sejumlah isu dalam film yang dianggap sensitif oleh sebagian pihak.

“Setelah kami pelajari dan kaji, ternyata memang ada beberapa hal yang membuat film ini dianggap sensitif,” tambahnya.

Menurut Rifal, isu yang diangkat dalam film tersebut tidak hanya relevan dengan kondisi di Papua, tetapi juga dapat menjadi refleksi bagi masyarakat di daerah lain, termasuk Sulawesi Tengah.

Ia juga mengaku tidak menyangka antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut cukup tinggi. Menurutnya, banyak peserta tetap bertahan hingga akhir acara, termasuk saat sesi diskusi berlangsung.

“Awalnya saya berpikir kegiatan ini tidak akan seramai ini. Namun, setelah pemutaran film dan masuk sesi diskusi, ternyata peserta tetap bertahan dan tidak berkurang,” katanya.

“Itu membuktikan bahwa masyarakat maupun mahasiswa yang hadir bukan hanya sekadar ikut-ikutan, tetapi memang ingin berdiskusi dan peduli terhadap isu sosial,” lanjutnya.

Rifal menilai film Pesta Babi menyampaikan pesan tentang perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur di tengah arus modernisasi.

Di akhir wawancara, ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sebagai ruang refleksi kritis bagi mahasiswa dan masyarakat.

“Kami berharap ini tidak berhenti sampai di sini. Nobar dan diskusi ini menjadi awal agar mahasiswa dan masyarakat terus belajar memahami isu sosial, politik, ekonomi, dan persoalan lainnya. Semoga dari langkah kecil seperti ini dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik ke depannya,” harapnya.

Wartawan: Jaye

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here