Home CERPEN Malam Terakhir di Beranda Rumah Sakit

Malam Terakhir di Beranda Rumah Sakit

3
0

Format Pengiriman Karya

Judul karya: Malam Terakhir di Beranda Rumah Sakit
Nama: Haura Hafidzah
Jurusan: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Angkatan: Wartawan LPM Qalamun
Isi karya: Cerpen

Hujan turun pelan di luar jendela rumah sakit. Butiran air menelusuri kaca, berlomba ke bawah seperti air mata yang tak pernah selesai. Di dalam kamar berbau obat yang menusuk, dua sahabat duduk berhadapan.

Maya terbaring lemah di ranjang, selang infus menempel di tangannya. Wajahnya pucat, tetapi senyumnya masih sama seperti dulu—hangat, seolah dunia ini tidak seburuk yang terlihat. Di sebelahnya, di kursi plastik yang mulai aus, duduk Risa, menatap sahabatnya dengan mata merah yang berusaha keras menahan tangis.

“Ris,” suara Maya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan, “kau ingat tidak, dulu kita pernah janji lulus bareng?”

Risa mengangguk, tersenyum kaku. “Iya. Kita sudah rencanakan banyak hal, May. Kuliah bareng, kerja bareng. Bahkan kau bilang, kalau kau nikah duluan, aku harus jadi saksi.”

Maya tertawa kecil, lalu batuk. Ada jeda panjang, seakan tubuhnya keberatan untuk sekadar tertawa. Namun setelah itu, ia tetap mencoba bercanda.

“Kalau kau yang nikah duluan, aku juga mau jadi saksi. Tapi sepertinya… aku tidak sempat, ya?”

Tawa Risa pecah menjadi gumaman serak. “Jangan bilang begitu, May. Dokter bilang masih ada harapan.”

Maya menatap Risa lama. Di matanya ada sesuatu yang dalam—sesuatu yang hanya dipahami oleh orang yang diam-diam telah menerima kenyataan.

“Risa… apa yang dokter bilang ke keluargaku, aku sudah tahu semuanya.”

Risa menunduk. Tangan kanannya mengepal, kukunya hampir menusuk telapak tangannya sendiri. Ia masih ingat jelas saat dokter memanggil orang tua Maya siang tadi. Ia ikut masuk dan mendengar kalimat yang paling ia benci dalam hidupnya: stadium akhir, waktu tinggal menghitung hari.

Sejak kalimat itu diucapkan, dunia Risa terasa berubah. Suara orang-orang terdengar jauh, langkah kaki di koridor rumah sakit seperti gema dari tempat lain. Satu-satunya hal yang terasa nyata hanyalah tangan Maya yang lemah dan tatapannya yang masih berusaha menenangkan semua orang.

“Kau tahu tidak, Ris?” lanjut Maya pelan. “Hal yang paling aku takutkan bukan mati.”

Risa mengangkat wajahnya. “Lalu?”

“Aku takut meninggalkan orang-orang yang aku sayang tanpa sempat bilang kalau aku benar-benar bersyukur pernah bertemu mereka.” Maya menoleh ke arah Risa. “Dan kau salah satu yang paling utama.”

Air mata Risa akhirnya jatuh ke punggung tangan Maya.

“May… jangan bilang begitu. Kita bisa lewati ini bersama. Aku di sini, aku tidak ke mana-mana. Kau hanya sakit, bukan kalah.”

Maya tersenyum. “Sahabat sejati itu bukan hanya yang menemani saat senang, tapi yang paling duluan datang saat dunia runtuh. Kau sudah lakukan semua itu.”

Risa mengusap wajahnya kasar. “Jangan bicara seperti perpisahan.”

“Kau yang bodoh. Dari dulu,” balas Maya sambil tertawa pelan. “Masih ingat waktu SMP? Kau yang pertama kali menolong aku saat dibully di lapangan belakang.”

Ingatan itu muncul kembali di kepala Risa. Siang yang panas, seragam yang lusuh, beberapa anak memojokkan Maya karena ia pendiam dan berprestasi. Semua orang diam. Hanya Risa yang berani maju dan berkata, “Kalau mau ganggu, ganggu aku sekalian!”

Sejak hari itu, mereka tak terpisahkan.

“Aku tidak menolongmu,” kata Risa pelan. “Aku hanya tidak tahan melihat yang lemah ditindas.”

Maya menggeleng. “Kau tidak pernah benar-benar melihat dirimu sendiri.”

Hening menyelimuti mereka. Hanya suara hujan dan detak mesin monitor yang terdengar.

“Ris,” suara Maya kembali terdengar, “kalau nanti aku tidak ada, kau janji satu hal.”

Risa langsung menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau janji seperti itu.”

“Tolong. Sekali ini saja.”

Risa menggigit bibir, lalu mengangguk pelan.

“Kalau aku sudah tidak ada, jangan habiskan hidupmu untuk menunggu sesuatu yang tidak akan kembali. Jangan berhenti berjalan. Kau harus tetap kuliah, kejar mimpi, tertawa seperti dulu. Kau harus punya sahabat baru, kenangan baru.”

Kata sahabat baru menusuk hati Risa.

“Kau pikir aku bisa menggantikanmu begitu saja?”

“Aku tidak minta digantikan. Aku hanya tidak mau jadi alasan kau berhenti hidup.”

Air mata Risa kembali mengalir.

“Kalau kau tidak ada, semuanya jadi berbeda.”

“Aku tahu. Tapi berbeda bukan berarti buruk.” Maya menatapnya lembut. “Dulu kau mengajariku berani punya teman. Sekarang, biar aku yang mengajarimu berani kehilangan.”

Kalimat itu menggantung, berat namun jujur.

Malam semakin larut. Orang tua Maya sempat datang, lalu pergi sebentar, meninggalkan mereka berdua lagi.

“Ris, kau ingat saat kita naik ke atap sekolah melihat matahari terbenam?”

“Tentu.”

“Aku bilang, ‘andai waktu bisa berhenti di sini.’”

Risa tersenyum tipis.

“Sekarang,” lanjut Maya, “aku hanya ingin waktu berjalan lebih pelan, supaya bisa lebih lama di sini denganmu.”

Risa menggenggam tangannya erat. “Kalau bisa, aku akan hentikan waktu itu.”

Maya tertawa kecil. “Kau selalu dramatis.”

Beberapa saat kemudian, napas Maya semakin melemah.

“Ris…”

“Ya?”

“Terima kasih… sudah jadi rumah untukku.”

Tangis Risa pecah.

“Terima kasih juga, May. Sudah datang ke hidupku.”

Maya menarik napas pelan, lalu mengembuskannya. Senyum tipis masih tersisa di bibirnya.

Suara monitor berubah menjadi garis panjang.

Dunia Risa runtuh.

Namun, di balik runtuhnya itu, ada sesuatu yang tetap berdiri: kenangan.

Beberapa tahun kemudian, di sebuah kampus di kota lain, seorang perempuan berjalan dengan ransel di punggungnya. Namanya Risa.

Di dalam dompetnya, tersimpan foto dua anak SMP yang tertawa dengan seragam kotor.

Setiap kali dunia terasa berat, ia melihat foto itu dan tersenyum.

“Tenang, May,” bisiknya. “Aku tetap berjalan.”

Karena sahabat sejati mungkin berpisah raga, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here