Nama: Miftahul Jannah
Jurusan: Tadris Bahasa Inggris
Wartawan LPM Qalamun
Aku tidak pernah tahu kapan tepatnya sesuatu yang biasa bisa berubah menjadi sesuatu yang akan terus diingat, bahkan ketika sudah tidak lagi terjadi.
Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu duduk di bangku taman itu. Atau sejak kamu, tanpa sadar, menggeser sedikit posisi dudukmu agar aku punya ruang di sebelahmu. Bisa jadi juga sejak aku mulai memilih datang ke tempat yang sama, pada jam yang sama, hanya karena kamu ada di sana.
Atau mungkin sejak aku merasa tenang hanya dengan melihatmu dari jarak tertentu, meskipun kita tidak pernah benar-benar memulai apa pun.
Waktu itu, kita tidak pernah menyebut apa yang terjadi di antara kita. Kita tidak memberi nama, juga tidak berusaha menjadikannya sesuatu yang pasti. Kita hanya… ada.
Seperti dua garis yang tidak pernah berjanji akan bertemu, tetapi juga tidak benar-benar menjauh.
Hari-hari kita sederhana. Namun justru kesederhanaan itu yang diam-diam membuat semuanya sulit dilupakan.
Kamu selalu membawa buku, meskipun jarang kulihat kamu benar-benar menyelesaikannya. Aku selalu membawa kopi, meskipun sering kali sudah dingin sebelum sempat diminum habis. Kita seperti dua kebiasaan yang terbentuk tanpa disadari, lalu perlahan saling mengenali.
“Kamu suka tempat ini?” tanyaku suatu sore.
“Kukira bukan tempatnya,” jawabmu pelan.
“Tapi orang yang ada di dalamnya.”
Aku terdiam.
Aku tidak tahu apakah aku termasuk “orang di dalamnya” itu, atau hanya seseorang yang kebetulan duduk di tepi ceritamu.
Sejak itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentangmu: cara kamu mengetuk ujung pena saat berpikir, cara kamu menatap langit seolah mencari jawaban yang tidak pernah tertulis, dan cara kamu tersenyum tipis ketika angin mengganggu halaman bukumu.
Tanpa sadar, aku mulai menunggu.
Bukan hanya tempat itu, tetapi juga kamu.
Bahkan sebelum aku mengakuinya, aku sudah mengingat jam kedatanganmu, posisi dudukmu, hingga cara kamu menutup buku saat hendak pergi.
Suatu sore, kamu berkata sesuatu yang masih sering terngiang hingga sekarang.
“Kalau suatu saat aku tidak datang lagi, kamu akan tetap di sini?”
Aku tertawa kecil, menganggapnya sebagai pertanyaan ringan.
“Kenapa kamu tidak datang lagi?”
“Kamu belum menjawab.”
Kali ini, suaramu berbeda. Tidak ada nada bercanda. Hanya sesuatu yang terasa seperti peringatan, meskipun aku belum memahami maksudnya.
“Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Mungkin aku akan tetap datang, mungkin juga berhenti.”
Kamu mengangguk pelan, seolah menerima jawaban yang tidak memuaskan, tetapi juga seolah sudah mengetahui bahwa jawaban apa pun tidak akan cukup.
Sejak hari itu, sesuatu berubah perlahan, tanpa suara, seperti jarum jam yang terus bergerak.
Hari ketika kamu tidak datang, awalnya tidak terlalu kupikirkan.
Mungkin kamu terlambat. Mungkin ada urusan. Mungkin hanya ingin beristirahat.
Namun, kamu juga tidak datang di hari berikutnya, dan hari-hari setelahnya.
Bangku taman itu tetap sama. Pohonnya sama. Anginnya sama. Bahkan suara burung di pagi hari masih terdengar seperti biasa.
Yang berbeda, hanya kamu yang tidak lagi ada.
Hari ketiga, aku masih duduk di tempat yang sama, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya jeda kecil. Aku tetap membawa kopi, meskipun tidak ada lagi yang bertanya apakah aku akan membaginya.
Hari kelima, aku mulai memperhatikan orang-orang lain di taman, seolah salah satu dari mereka bisa menjelaskan kepergianmu.
Hari ketujuh, aku lebih sering melihat jam daripada langit.
Hari kesepuluh, aku duduk lebih lama dari biasanya, meskipun tidak ada percakapan yang menunggu.
Hari keempat belas, aku berhenti membawa kopi.
Karena kebiasaan itu kehilangan alasan.
Hampir sebulan kemudian, aku melihatmu lagi.
Di seberang jalan, di bawah lampu toko yang berkedip. Kamu berdiri bersama seseorang yang tidak kukenal. Kamu tertawa lebih ringan, tetapi terasa jauh.
Ada hal-hal yang masih sama dari dirimu, tetapi ada juga yang tidak lagi sama tentang jarak di antara kita.
Aku memanggil namamu dalam hati, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku tidak yakin lagi apakah aku masih punya hak untuk memanggilmu seperti dulu.
Kamu tidak melihatku.
Atau mungkin melihat, tetapi memilih untuk tidak mengenali.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Malam itu, aku kembali ke bangku taman.
Bangku yang dulu kita gunakan untuk berbagi diam, cerita, dan waktu tanpa nama.
Aku duduk lebih lama dari biasanya. Bukan karena menunggu, tetapi karena tidak tahu harus pergi ke mana setelah kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang sederhana, tetapi berat: mungkin aku tidak kehilanganmu dalam satu hari. Mungkin aku kehilanganmu perlahan, di setiap hari yang kita jalani tanpa pernah memastikan arah kita.
Dalam percakapan yang tidak pernah selesai, kehadiran yang semakin jarang, dan jarak yang tidak pernah diumumkan, tetapi menjadi nyata.
Aku mulai mengerti bahwa tidak semua hubungan berakhir dengan perpisahan yang jelas.
Ada yang berakhir diam-diam.
Dan kita, mungkin, adalah salah satunya.
Sekarang, aku masih sesekali datang ke taman itu.
Tidak lagi menunggu siapa pun. Tidak lagi menghitung waktu.
Aku hanya duduk, melihat orang-orang lewat, dan mendengarkan angin yang lewat tanpa nama.
Kadang aku membawa kopi lagi, tetapi tidak pernah benar-benar diminum seperti dulu. Lebih sebagai pengingat bahwa aku pernah memiliki kebiasaan yang terasa berarti.
Dan di sela sunyi itu, aku masih memikirkanmu.
Bukan sebagai seseorang yang hilang, tetapi sebagai bagian dari cerita yang hampir terjadi.
Sebagai kemungkinan yang pernah begitu dekat, tetapi tidak pernah memilih untuk menjadi nyata.
Karena pada akhirnya, aku belajar satu hal
Ada “kita” yang tidak pernah benar-benar jadi, tetapi tetap terasa nyata pada satu masa.
Dan ada kamu, yang mungkin sudah melanjutkan hidup di halaman yang berbeda.
Sementara aku masih di sini, merawat versi kita yang tidak pernah selesai.
Aku, kamu, dan versi yang tak jadi kita.







