Tidak Sakit, Hanya Luka

0

Oleh: Nisa Nurhidaya Wartawan LPM Salamun Aku tidak sakit, tetapi luka mana yang harus kusembuhkan? Denyut nyeri kadang menyerang, di dada, juga di batin yang tenang. Mereka menyuruhku pergi ke dokter, memeriksa sakit apa yang kuderita. Sudah kubilang, aku tidak sakit — hanya luka. Namun mereka tertawa, menganggap diriku gila. Mengapa manusia begitu kejam? Mengapa manusia begitu jahat? Mereka terlalu cepat menghakimi, tanpa mau tahu kisah di balik perih ini. Ego sering kali mengambil alih, menutup...

Pelindung Hijau di Bibir Pantai

0

Oleh: Ria Andani AH Timumun Wartawan LPM Qalamun Di pantai sunyi, mangrove berdiri tegak, Akar menjulur, pelindung alam yang bijak. Daun-daunnya menari dihembus angin lembut, Menjaga bumi dari gelombang yang menggebu kuat. Hutan bakau, tempat burung pulang bersandar, Sarang kehidupan, harmoni yang sadar. Air mengalir, membawa kisah tanpa suara, Mangrove mengajarkan arti menjaga semesta. Lahan basah menyimpan rahasia kehidupan, Tempat tumbuh harapan dalam keheningan. Dari lumpur pekat hingga laut terbentang, Keindahan...

Obrolan di Warung Kopi

0

Oleh: Novan Afriza Wartawan LPM Qalamun Malam itu, warung kopi di pojok jalan sudah ramai oleh suara tawa. Seperti biasa, sekelompok anak laki-laki SMA duduk melingkar di meja kayu usang — meja yang seolah menjadi saksi bisu segala cerita: mulai dari kisah cinta yang gagal, rencana masa depan, hingga perdebatan sengit tentang klub sepak bola kesayangan. Ekal, si paling banyak bicara, sedang...

Pendidikan Tinggi: Antara Investasi Masa Depan atau Beban Finansial

0

Oleh: Novan Afriza Wartawan LPM Qalamun Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi dipandang sebagai kunci emas menuju masa depan yang lebih baik. Gelar sarjana dipercaya mampu membuka peluang kerja, meningkatkan status sosial, dan menjamin kestabilan ekonomi. Tak heran, banyak orang tua rela menabung bertahun-tahun, bahkan berutang, demi menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Namun di tengah biaya kuliah yang terus melambung dan ketidakpastian dunia kerja...

Kita

0

Oleh: Novan Afriza Wartawan LPM Qalamun Di antara ribuan langkah yang asing, ada jejak kita yang saling menemukan. Tak perlu kata untuk mengerti, sebab diam pun telah menjadi bahasa hati. Kita adalah tawa yang tak pernah usang, bahkan saat dunia berubah arah. Kita adalah bahu yang tak pernah lelah, menampung cerita, luka, dan rahasia. Bersama, kita belajar jatuh, belajar bangkit, belajar merangkul hari esok tanpa takut kehilangan. Meski waktu akan menua, dan jarak mungkin...

Tikus-Tikus di Balik Jas

0

Oleh: Desi Febriyanti Wartawan LPM Qalamun Pagi itu, langit Jakarta menggantung kelabu — seolah ikut menahan tangis yang tak kunjung tumpah. Di balik deretan gedung pencakar langit yang menjulang gagah, suara rakyat kecil nyaris tak terdengar. Di sebuah gang sempit, seorang pemuda bernama Raka duduk di depan warung kopi yang sederhana. Di tangannya tergenggam selembar koran lusuh. Pada halaman depan, terpampang foto seorang...

Demokrasi Indonesia, Antara Janji dan Realita yang Mati

0

Oleh: Desi Febriyanti Wartawan LPM Qalamun Indonesia, negeri yang kita cintai, selalu mengusung gelar sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Namun pertanyaannya, apakah demokrasi itu benar-benar hidup dan memberi ruang bagi rakyat untuk bersuara? Puisi yang kita baca menggambarkan kenyataan pahit: demokrasi Indonesia perlahan kehilangan maknanya. Janji demokrasi sejatinya adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tetapi dalam praktiknya, kekuasaan...

Indonesia

0

Oleh: Desi Febriyanti Wartawan LPM Qalamun Indonesia, Negara yang katanya demokrasi, Namun maknanya perlahan mati. Berkali-kali dimonopoli Oleh mereka yang haus kuasa— berlari, tergesa, tanpa rasa. Mereka menulis, mereka membaca, Namun saat berbicara, seakan tak lagi punya kepala. Banyak yang bertanya, banyak yang menjadi saksi. Namun entah mengapa, yang bersalah justru dimengerti. Mereka berkuasa, mereka memerintah. Rakyat membisu, terkubur di bawah tanah sejarah. Di mana letak demokrasi? Indonesia… Terlalu banyak tikus berdasi. Benar adanya— demokrasi telah pergi. Yang tersisa hanya janji, dan mimpi yang...

Senja di Balik Bendera

0

Oleh: Abdul Wahid Ansori Wartawan LPM Qalamun Di tepi jalan raya Jakarta, langit sore berwarna jingga keemasan. Bendera merah putih masih berkibar di tiang-tiang jalan, meski kainnya mulai lusuh — seperti napas panjang bangsa yang terus menanggung beban zaman. Arif, seorang pengemudi ojek online, berhenti sejenak di pinggir trotoar. Ia melepas helm, mengusap peluh, dan menatap layar ponsel yang terus berdering. Orderan datang...

Tegak di Tengah Luka Zaman

0

Oleh: Abdul Wahid Ansori Wartawan LPM Qalamun Indonesia, tanah airku, Masih tegak di tengah riuhnya zaman. Hutanmu digunduli, lautmu diperas, Namun semangatmu tak pernah pupus, meski luka kerap menoreh di dada. Di jalan-jalan kota, bendera tetap berkibar, Namun hati sebagian anak bangsa retak. Perbedaan sering dijadikan senjata, Padahal Bhinneka ialah ruh yang menyatukan kita. Rakyat kecil menjemput rezeki dengan peluh, Sementara gedung-gedung tinggi menara ambisi. Keadilan masih menanti panggilan, Namun doa Ibu Pertiwi...