Nama: Srivahyualda Ladjamu
Jurusan: Pengembangan Masyarakat Islam
Semester: I
Hai, aku Arula. Aku punya sahabat-sahabat yang luar biasa, mereka adalah Ain, Nurul, Silvi, Ana, Fiza, Zia, Uswa, Rizkia, Fira, dan Lia. Setiap dari mereka memiliki sifat yang berbeda—ada yang pelawak, sholehah, bobrok, dewasa, bahkan cerewet. Kami sudah seperti saudara; saling merangkul, menyemangati, dan saling menyayangi.
Suatu malam yang sunyi, aku berbaring di kasur empuk dan bermain ponsel untuk menghilangkan rasa bosan. Tiba-tiba, ponselku berbunyi, pertanda ada panggilan masuk. Ternyata itu panggilan grup dari para sahabatku. Kami kini dipisahkan oleh pendidikan, dan melalui panggilan ini kami saling bertukar kabar.
Ain memulai percakapan, “Kalian apa kabar?” Kami menjawab dengan kompak, “Alhamdulillah, sehat, Ain.” Kemudian, Fiza bertanya, “Bagaimana kuliahnya? Apakah menyenangkan?” Aku menjawab dengan lesu, “Sangat melelahkan, Fiza. Banyak sekali tugas kuliah yang harus dikerjakan, padahal baru semester 1, huftt.” Percakapan itu pun berlanjut dengan cerita-cerita ringan, bercanda, sampai kami lupa waktu.
Suatu ketika, Fiza menghubungi Ain untuk bertanya sesuatu. “Ain, obat apa yang kau minum ketika penyakitmu kambuh?” Ain menjawab dengan mengirim foto obat yang biasa ia minum. “Ini obat yang sering aku minum ketika penyakitku kambuh,” tulis Ain. Lalu Ain bertanya, “Apakah kau sakit, Fiza?” Fiza menjawab dengan nada keraguan, “Iya, Ain, tapi ini belum terlalu parah, masih bisa aku tahan, tenang saja.”
Fiza melanjutkan, “Ain, jangan bilang tentang penyakitku kepada teman-teman kita ya. Aku nggak mau mereka khawatir.” Ain menjawab, “Baiklah, Fiza.” Di akhir percakapan, Fiza berkata, “Ain, kau sangat hebat bisa bertahan sampai saat ini dengan penyakit yang selama ini membuatmu tersiksa. Aku sangat iri.” Setelah itu, Fiza mematikan teleponnya. Ain merasa aneh, tetapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu.
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah memasuki pertengahan semester, dan kami semua disibukkan dengan urusan masing-masing hingga lupa saling mengabari.
Suatu hari, setelah aku pulang dari kampus, membersihkan diri, dan menunaikan sholat, aku berbaring karena kelelahan. Tiba-tiba, ponselku berbunyi—Ana menelpon melalui panggilan grup. Aku tidak mengangkatnya, dan karena tidak ada yang mengangkat panggilan tersebut, Ana mengetik pesan yang bertuliskan, “Fiza sudah meninggal dunia,” diakhiri dengan emotikon sedih. 🙁
Karena aku merasa tidak percaya, aku akhirnya mengangkat panggilan video dari Ana. Di dalam panggilan tersebut, terdengar suara tangisan dari para sahabatku. Aku sudah tidak bisa menahan air mata lagi. Saat kami tidak bisa berkata-kata karena masih syok, Ain berkata sambil menangis, “Sebenarnya Fiza sempat menelponku sebelum dia meninggal. Dia menanyakan obat yang sering aku minum, lalu bilang, ‘Jangan bilang kepada kalian semua kalau aku sakit, aku takut membuat kalian khawatir.'”
Kami tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Kami hanya bisa menangis.
Selasa, 15 Oktober, adalah hari di mana kami kehilangan sosok sahabat yang sangat luar biasa. Tidak ada salam perpisahan, semuanya terlalu tiba-tiba. Ikhlas? Ikhlas itu bohong! Yang benar itu adalah terpaksa, lalu terbiasa.sekian







