PALU, LPMQALAMUN.com – Sejumlah mahasiswa asing di UIN Datokarama Palu menyuarakan keluhan terkait minimnya dukungan kampus dalam hal akademik, administrasi, dan layanan kesehatan. Sejak awal kedatangan, mereka merasa belum mendapatkan informasi serta fasilitas yang memadai dari pihak kampus.
Masalah bahasa menjadi perhatian utama. Tiga mahasiswa asing asal Thailand, yakni S, H, dan A, mengungkapkan bahwa mereka tidak mendapatkan pelatihan Bahasa Indonesia sebelum perkuliahan dimulai. Padahal, pelatihan tersebut dianggap penting untuk memahami materi kuliah yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia.
“Saya sedikit terkejut dan cemas ketika langsung masuk kelas tanpa pelatihan bahasa. Saya khawatir tidak mampu memahami materi,” ujar A saat diwawancarai oleh Kru LPM Qalamun, Sabtu (21/06/2025).
Hal serupa dirasakan oleh H dan S, yang mengaku kesulitan mengikuti diskusi di kelas. Mereka akhirnya mengandalkan bantuan teman lokal serta Google Translate saat mengalami hambatan bahasa.
Kendala lain muncul dalam pengurusan visa. Di awal kedatangan pada tahun 2023, proses visa dibantu oleh dosen pembina mahasiswa asing. Namun, setelah terjadi pergantian dosen dan rektor, mereka mengaku kebingungan karena tidak mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Akibatnya, mereka harus mengurus visa sendiri tanpa pendampingan.
M, mahasiswa asing lainnya, menceritakan pengalamannya saat diminta mengurus visa secara mandiri karena sistem telah berubah menjadi daring.
“Kami sempat disuruh urus sendiri, tapi websitenya tidak bisa kami akses pakai akun pribadi. Akhirnya dosen juga yang bantu,” ujarnya, Rabu (25/06/2025).
Persoalan lain yang mencuat adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. M menyebut dirinya pernah menggunakan BPJS milik teman asal Indonesia agar bisa mendapatkan perawatan medis, meski menyadari bahwa hal tersebut berisiko.
Ia berharap kampus lebih peduli terhadap mahasiswa asing, terutama dalam menyediakan pelatihan Bahasa Indonesia minimal dua hingga tiga bulan sebelum perkuliahan dimulai, kejelasan informasi terkait visa dan beasiswa, serta layanan kesehatan yang legal dan layak diakses.
“Kampus perlu menyediakan informasi yang jelas dan petugas yang mudah ditemui, serta menjalin kerja sama dengan rumah sakit agar mahasiswa asing bisa berobat secara aman dan legal,” pungkasnya.
M menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya dialami dirinya seorang, melainkan juga oleh mahasiswa asing lain yang sedang menempuh studi di UIN Datokarama.
Wartawan: Gree, Nan






