Home CERPEN Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

165
0

Oleh: Rahmawati Zulqaedah
Wartawan LPM Qalamun

Di sebuah kota kecil yang dikelilingi pepohonan rindang, tinggal seorang gadis bernama Maya. Ia adalah sosok ceria dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Di balik keceriaannya, Maya menyimpan impian sederhana: menemukan cinta sejati, seseorang yang mau menerima dirinya apa adanya.

Suatu hari, saat berjalan di taman, Maya bertemu dengan Rian, seorang pemuda tampan dan karismatik. Pertemuan itu membawa mereka ke dalam pertemanan yang kian akrab. Rian selalu berhasil membuat Maya tertawa, dan tanpa sadar benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Maya.

Namun, kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi perih. Rian kerap bercerita tentang seorang gadis lain yang membuatnya jatuh hati. Setiap kali mendengar kisah itu, hati Maya seakan diremas. Meski demikian, ia memilih tetap mendukung dan tersenyum, menutupi luka yang kian dalam.

Hari demi hari berlalu. Maya ingin mengungkapkan perasaannya, tetapi ketakutan kehilangan persahabatan menahannya. Ia lebih memilih menyimpan perasaan itu dalam diam, berharap suatu saat Rian menyadari siapa yang benar-benar selalu ada untuknya.

Suatu sore, di bangku taman tempat mereka pertama kali bertemu, Rian bercerita dengan mata berbinar tentang rencana kencannya bersama gadis yang ia sukai. Hati Maya hancur seketika. Air matanya hampir jatuh, namun ia memaksa bibirnya tersenyum.

“Semoga kamu bahagia, Rian,” ucapnya lirih.

“Terima kasih, Maya. Kamu sahabat terbaik yang selalu mendukungku,” balas Rian tanpa menyadari betapa dalamnya rasa yang Maya pendam.

Hari-hari berikutnya, Rian resmi menjalin hubungan dengan gadis itu. Maya merasa kian terasing. Ia berusaha move on, tetapi bayangan kebersamaan mereka selalu menghantui. Sampai akhirnya, Maya memutuskan untuk menjaga jarak. Ia tahu, hanya dengan begitu hatinya bisa perlahan sembuh.

Waktu pun berjalan. Maya belajar kembali mencintai dirinya sendiri, meraih impian yang sempat ia tunda. Meski hatinya pernah terluka, ia menemukan kekuatan baru untuk bangkit. Sementara itu, Rian mulai menyadari betapa berharganya Maya dalam hidupnya, meski semua sudah terlambat.

Dari pengalaman itu, Maya mengerti satu hal: cinta tidak selalu berarti memiliki. Terkadang, mencintai seseorang dari jauh adalah bentuk cinta yang paling tulus. Tidak semua kisah berakhir bahagia, tetapi setiap luka selalu meninggalkan pelajaran dan harapan baru.

Dan meski cintanya pernah bertepuk sebelah tangan, Maya tetap percaya—suatu hari nanti, cinta yang benar-benar untuknya akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here