Oleh: Rennu Alifah Rahma
Wartawan LPM Qalamun
Aku masih ingat jelas awalnya. Semua bermula dari sebuah proyek kecil. Aku diminta mencari seseorang yang bisa diajak bekerja sama, dan yang langsung terlintas di pikiranku adalah Kiran. Entah kenapa, dia terasa pas untuk itu.
Sebelumnya, aku sering bersama Nayara. Dia selalu menjadi sosok yang berani tampil di depan, bisa bicara lancar seakan dunia hanya miliknya. Kadang cerewet, kadang jutek, tapi di balik itu semua, dia punya daya tarik yang kuat. Bagiku, Nayara bukan sekadar teman, tapi wajah yang bisa menghidupkan setiap ide.
Pertemuan pertama kami bertiga terasa sederhana, bahkan nyaris sepele. Obrolan singkat, kerja bareng seadanya, tanpa rencana besar. Namun, rupanya dari situlah benih itu tumbuh.
Bulan Juli datang, dan aku mendapat proyek baru: membuat video perpisahan sekolah. Aku tidak mau melakukannya sendirian, jadi aku mengajak Nayara dan Kiran. Kami bekerja sebagai satu tim. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan, seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.
Setelah itu, kami mencoba membuat karya lagi di sebuah ruang publik. Sekilas, itu hanyalah aktivitas kecil. Tapi di situlah aku menyadari sesuatu yang berbeda. Ada kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Suatu malam, kami bertiga duduk di sebuah taman kota. Lampu jalan redup, angin berhembus pelan, dan suasana terasa akrab. Dari sanalah percakapan itu muncul.
“Kalau kita terus jalan bareng, apa kita perlu kasih nama?” tanya Nayara sambil menggoyangkan botol minumnya.
Aku menoleh padanya, lalu mengangguk. “Nama itu kayak janji. Supaya kita ingat, ini bukan sekadar main-main.”
Kiran, yang sedari tadi sibuk memotret lampu jalan dengan kameranya, tiba-tiba menimpali, “Kalau tiga orang… gimana kalau kita ibaratkan pohon? Tiga akar yang saling menguatkan.”
Aku tersenyum. Kata-katanya seperti klik di hatiku. “Aku suka itu. Pohon itu tumbuh, akar saling menopang. Bagaimana kalau… Trisvara?”
“Trisvara?” Nayara mengulang pelan. “Artinya apa?”
“Tiga suara. Tiga jiwa yang berpadu menjadi satu harmoni,” jawabku sambil menatap keduanya.
Kiran langsung tertawa kecil, wajahnya berbinar. “Keren banget. Aku suka.”
Nayara mengangguk, kali ini dengan senyum hangat. “Baiklah. Mulai sekarang, kita Trisvara.”
Malam itu, kami saling menggenggam janji yang tak terucap: bahwa kami akan tumbuh bersama.
Kini, Trisvara bukan hanya nama. Ia adalah rumah kecil yang kami bangun dari ketidaksengajaan. Rumah untuk ide, rumah untuk keluh kesah, rumah untuk mimpi.
Bagi orang lain, mungkin kami hanya tiga anak muda dengan angan-angan. Tapi bagiku, Trisvara adalah janji. Janji untuk terus tumbuh, meski jalan ke depan tak selalu mudah.
Dan di setiap langkah, aku percaya: tiga akar ini akan terus menembus tanah, menguat, dan menjulang menjadi pohon yang tak tergoyahkan.







