Home CERPEN Suara dari Kursi Kosong

Suara dari Kursi Kosong

95
0

Oleh : Aulia Eka Savitri
Pengurus Redaksional

Hujan turun deras sore itu. Di ruang kelas yang mulai lengang, hanya tersisa satu kursi kosong di pojok belakang. Kursi itu milik cantika—anak yang tak pernah benar-benar ada, tapi selalu disebut setiap kali absen.

“Cantika nggak masuk lagi, ya?” tanya Bu Vania, sambil mencatat di buku hadir.
Tak ada yang menjawab. Kami semua saling pandang, pura-pura sibuk dengan tas dan payung.

Cantika memang aneh. Tak ada yang tahu dari mana dia pindah, tak ada yang pernah melihat rumahnya. Ia duduk di pojok belakang, jarang bicara, tapi selalu tersenyum setiap kali disapa. Sampai suatu hari, dia tak datang lagi—dan tak pernah kembali.

Namun, sejak itu… sesuatu berubah.

Setiap kali hujan turun, kursi kosong itu berderit pelan, seperti ada yang duduk. Kapur di papan tulis bergerak sendiri, menuliskan kalimat yang sama:
“Aku tidak absen, Bu.”

Kami pikir itu lelucon, tapi tulisan itu muncul lagi dan lagi.

Suatu sore, aku memberanikan diri untuk duduk di kursinya. Kursi itu dingin, seolah menyimpan udara dari tempat lain. Lalu, samar-samar kudengar suara—pelan, bergetar, seperti datang dari balik hujan.

“Aku cuma ingin tetap belajar…”

Keesokan harinya, kursi itu hilang.
Tak ada yang tahu siapa yang memindahkannya. Tapi di dinding belakang kelas, seseorang—atau sesuatu—menulis kalimat terakhir:

“Terima kasih sudah duduk di sini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here