Home OPINI CTRL: Ketika Tombol ‘Accept’ Menjadi Awal Hilangnya Kedaulatan Diri

CTRL: Ketika Tombol ‘Accept’ Menjadi Awal Hilangnya Kedaulatan Diri

65
0

Oleh: Miftha Wahdania
Jurusan: Sistem Informasi
Wartawan LPM Qalamun

Kehadiran film original Netflix berjudul CTRL (2024) bukan sekadar menjadi tontonan hiburan, melainkan juga refleksi kritis bagi masyarakat modern mengenai posisi manusia di hadapan teknologi. Bagi masyarakat awam yang selama ini menikmati kemudahan digital tanpa banyak mempertanyakan risikonya, film ini menghadirkan kesadaran baru yang cukup mengguncang: di balik layar gawai yang berkilau, privasi kita berada di ambang kepunahan.

Salah satu isu paling krusial yang diangkat dalam film ini adalah fenomena ketidakpedulian pengguna terhadap dokumen persyaratan dan ketentuan. Kita kerap terjebak dalam perilaku impulsif dengan menekan tombol “Setuju” tanpa membaca satu baris pun, demi memperoleh akses instan ke fitur aplikasi yang menarik. Tanpa disadari, tindakan sederhana tersebut merupakan bentuk penyerahan hak asasi secara sukarela. Kita memberi izin kepada algoritma untuk memantau aktivitas, mendengarkan percakapan, hingga membedah memori pribadi. Film ini secara dramatis menunjukkan bahwa persetujuan yang kita berikan sering kali bukan didasarkan pada pemahaman, melainkan hasil manipulasi desain yang membuat seolah-olah kita tidak memiliki pilihan lain.

Melalui penggambaran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan deepfake, film CTRL memperlihatkan bagaimana data pribadi dapat dipersenjatai untuk melawan pemiliknya sendiri. Selama ini, AI kerap dipandang sebagai alat bantu yang cerdas dan efisien. Namun, film ini membuka mata bahwa AI juga mampu mengonstruksi realitas palsu yang sangat meyakinkan. Ketika wajah, suara, dan kepribadian seseorang dapat ditiru secara sempurna oleh mesin, integritas informasi menjadi taruhannya. Potensi penyalahgunaan data untuk fitnah, penipuan, hingga penghancuran reputasi digital bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata yang sudah ada di depan mata. Kita kini berada di era ketika “melihat” tidak lagi berarti “memercayai”.

Pelajaran pahit lainnya yang disampaikan film ini adalah bahwa dalam dunia digital, data bersifat abadi. Kita sering beranggapan bahwa dengan menekan tombol “Hapus”, jejak digital akan lenyap sepenuhnya. CTRL justru menunjukkan sebaliknya: data yang telah diunggah merupakan aset berharga bagi korporasi teknologi. Data tersebut tidak pernah benar-benar mati, melainkan disimpan, diolah, dan dimanfaatkan untuk melatih kecerdasan buatan demi keuntungan finansial pihak ketiga. Dalam konteks ini, manusia tidak lagi diposisikan sebagai subjek atau pengguna, melainkan sebagai komoditas atau sumber daya yang dieksploitasi tanpa henti. Hak untuk dilupakan seolah lenyap karena jejak digital telah tersimpan permanen dalam infrastruktur yang tidak kita kuasai.

Pada akhirnya, film CTRL menjadi peringatan keras bagi kita semua agar tidak bersikap naif terhadap teknologi. Kita perlu menumbuhkan sikap kritis dan skeptis sebelum menyerahkan data pribadi kepada aplikasi apa pun. Literasi digital tidak lagi sebatas kemampuan mengoperasikan gawai, melainkan juga kemampuan memahami konsekuensi dari setiap interaksi digital yang kita lakukan. Sudah saatnya masyarakat menuntut transparansi yang lebih besar serta perlindungan data yang lebih kuat. Jangan sampai demi kenyamanan sesaat, kita menyerahkan kendali atas hidup dan identitas kepada algoritma yang tidak memiliki nurani. Sebelum semuanya terlambat, kita harus menyadari bahwa kendali sejati seharusnya berada di tangan manusia, bukan sepenuhnya berada di bawah kuasa teknologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here