Home CERPEN Suara yang Mulai Tenang

Suara yang Mulai Tenang

36
0

Oleh : Jelita Nurwahida Lasadam
Pengurus Redaksional

Bagi Nara, malam selalu menjadi waktu yang paling berisik.
Bukan karena suara kendaraan di jalan, bukan pula karena suara musik dari kamar tetangga asramanya, melainkan karena suara di kepalanya sendiri.
Suara yang berisi bentakan, hinaan, dan kalimat-kalimat yang dulu ia dengar setiap hari dari mulut ayahnya.

“Kamu nggak becus!”
“Dasar anak bodoh!”
“Nggak usah sok pintar kalau ujung-ujungnya gagal!”

Kalimat itu terus terngiang bahkan ketika ia sudah jauh dari rumah.
Sampai hari ini, di usia delapan belas tahun, ketika ia baru saja memulai masa kuliahnya,
suara itu masih bergema, tidak sekeras dulu, tapi tetap menusuk.

Nara tidak pernah tahu kapan rasa takut itu mulai tumbuh.
Mungkin sejak malam pertama ayahnya berteriak hanya karena nilai ulangannya jelek.
Atau mungkin saat pertama kali piring terlempar ke dinding, dan ibunya diam saja, pura-pura tidak melihat.
Yang pasti, sejak kecil ia belajar bahwa diam adalah cara bertahan hidup.

Di rumah, Nara tumbuh seperti bayangan, hadir tapi nyaris tak terdengar.
Ia berhati-hati memilih kata, berhati-hati melangkah, berhati-hati bernapas.
Sampai akhirnya, ketika SMA usai dan surat penerimaan kuliah datang, ia merasa seperti menemukan pintu keluar yang selama ini ia cari.

Kampus barunya terletak di kota kecil yang jauh dari rumah.
Udara pagi di sana terasa berbeda, lebih ringan, lebih bebas.
Tapi kebebasan itu tidak serta-merta menghapus trauma.
Setiap kali seseorang menaikkan suara, bahkan hanya bercanda, dadanya terasa sesak, seperti ada tali yang menjerat.

Di minggu pertama kuliah, Nara duduk di pojok kelas, jarang bicara. Ia mengamati semua orang dari kejauhan. Teman-temannya tampak mudah sekali tertawa dan bergaul, sementara ia selalu ragu, takut salah, takut membuat orang marah.

Suatu siang, ketika mata kuliah Pengantar Organisasi sedang berlangsung, seorang senior bernama Alya menghampirinya seusai kelas.
“Eh, kamu Nara, kan? Aku lihat kamu jago nulis pas tugas kemarin,” katanya sambil tersenyum.
Nara hanya mengangguk pelan.

Alya melanjutkan, “Kita lagi butuh anggota buat tim media di organisasi kampus. Mau gabung? Nggak harus aktif banget kok, bisa mulai bantu nulis artikel dulu.”

Nara terdiam.
Kata “organisasi” membuatnya ngeri. Ia takut pada ruang-ruang ramai, takut pada situasi di mana seseorang bisa marah karena hal kecil.
Namun senyum Alya tidak menuntut. Ada ketulusan di matanya yang lembut.
Dan untuk pertama kalinya, Nara berpikir, mungkin tidak semua orang akan membentak ketika aku salah.

Hari pertama bergabung dengan organisasi terasa seperti ujian mental.
Suara tawa anggota lain bergema di ruangan kecil itu.
Ketika seorang senior menyuruhnya memperbaiki tulisannya,
ia menahan napas, menunggu nada tinggi, tapi yang datang justru suara ramah,

“Tulisan kamu udah bagus, tapi coba tambahin diksi yang lebih hidup, ya. Aku bantu review kalau mau.”

Tidak ada bentakan. Tidak ada ejekan.
Dan entah kenapa, rasanya aneh sekali.
Aneh, tapi hangat.

Hari demi hari berlalu.
Nara mulai terbiasa menyapa, mulai berani menyampaikan pendapat. Ia belajar bahwa kesalahan bukan dosa, dan kritik bukan hukuman.
Setiap interaksi kecil itu menjadi terapi tersendiri,
membentuk ulang makna “suara keras” di kepalanya.

Tentu, tidak semuanya mudah.
Ada hari-hari ketika trauma kembali menyergap.
Misalnya, ketika seorang dosen menegur karena tugas terlambat, suara tegas itu memantik ingatan lama: piring pecah, tangisan ibu, teriakan ayah.
Ia hampir menangis di kelas, tapi berhasil menahan diri.

Malamnya, ia menulis di buku hariannya:
“Aku masih takut, tapi sekarang aku bisa membedakan: dosenku bukan ayahku. Dunia luar tidak semuanya sama.”

Semester demi semester, Nara mulai menemukan dirinya. Ia menjadi penulis tetap di buletin kampus, lalu dipercaya memimpin divisi media.
Setiap kali ia berbicara di depan forum, suaranya masih sedikit bergetar, tapi kini ia tidak lagi diam.

Suatu hari, setelah acara kampus selesai, Alya menghampirinya lagi.
“Kamu tahu nggak, Nar, dulu waktu pertama kali aku ngajak kamu gabung, aku kira kamu pemalu banget.”
Nara tertawa kecil. “Ya, mungkin aku memang pemalu.”
“Bukan pemalu, sih,” kata Alya lembut, “lebih ke… hati-hati. Tapi sekarang kamu jauh lebih berani. Aku bangga.”

Kata-kata itu sederhana, tapi menggetarkan.
Tak ada yang pernah bilang “bangga” pada Nara sebelumnya. Bahkan ibunya hanya diam setiap kali ia berprestasi, takut menyinggung ayahnya yang selalu merasa lebih tahu segalanya.

Malam itu, di kamar asramanya yang tenang, Nara menatap bayangannya di cermin.
Raut itu masih sama, mata teduh, rambut acak-acakan
tapi ada sesuatu yang berbeda, ketenangan.
Suara bentakan di kepalanya kini lebih pelan, seperti gema yang semakin menjauh.

Beberapa bulan kemudian, Nara memberanikan diri pulang untuk libur semester.
Rumahnya masih sama, cat dinding mulai pudar, aroma masakan ibu menyambut dari dapur.
Ayahnya duduk di ruang tamu, menatap berita di televisi tanpa bicara.

Ketika Nara lewat, ayahnya hanya melirik sekilas.
Tidak ada sapaan, tidak ada marah, tapi juga tidak ada senyum. Namun kali ini, dada Nara tidak sesesak dulu.
Ia tidak lagi merasa seperti anak kecil yang harus membungkuk takut.
Ia hanya berjalan tenang, menaruh tas, dan berkata lirih,
“Aku pulang, Yah.”

Ayahnya tidak menjawab. Tapi untuk pertama kali, Nara tidak menunggu respon apa pun.
Ia tahu, penyembuhan bukan berarti semua orang akan berubah. Kadang, yang berubah justru cara kita menerima luka itu sendiri.

Di penghujung malam, Nara membuka laptop dan menulis sebuah artikel untuk buletin kampus.
Judulnya: “Tentang Suara yang Kita Bawa dari Rumah.”
Ia menulis tentang bagaimana bentakan bisa tinggal di kepala seseorang selama bertahun-tahun,
bagaimana kata-kata kasar bisa membentuk cara kita mencintai diri sendiri,
dan bagaimana, perlahan, keberanian untuk membuka diri bisa menjadi obat yang paling sederhana tapi paling ampuh.

Ia menulis sambil tersenyum.
Karena kini, suara yang paling sering ia dengar bukan lagi bentakan dari masa lalu,
melainkan suara hatinya sendiri yang berkata lembut:
“Kamu sudah cukup berani. Kamu sudah cukup kuat. Dan kamu pantas bahagia.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Nara tertidur tanpa mendengar satu pun gema di kepalanya hanya keheningan yang hangat, seperti pelukan yang lama hilang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here