Oleh : Mutiara Nur Riadha Tul Ni’mah
Pengurus Redaksional
Di pagi hari yang indah, langit cerah, burung-burung berkicau dengan gembira, pohon-pohon yang tertiup angin membuat siapa saja yang berada di tempat itu menjadi nyaman dan bahagia. Ya, hari itu adalah hari pertamaku memasuki sekolah tatap muka setelah kurang lebih satu setengah tahun melakukan pembelajaran online dan menghabiskan waktu di rumah karena pandemi covid-19. Bertemu untuk pertama kalinya, membuat hanya ada rasa canggung yang tercipta. Saat itu sekolah membagi jam belajar persesi dan satu kelas hanya berjumlahkan lima orang saja.
Hari demi hari terlewati, yang awalnya canggung, diam, dan hanya bisa saling tatap sambil tersenyum tipis lama kelamaan dapat menyesuaikan diri. Saat itu siswa siswi kelas terus bertambah dan pada akhirnya kami yang berada pada sesi dua berjumlahkan 18 orang pun dengan sesi dua yang berjumlahkan 18 orang.
Singkat cerita, hari dimana kami dipersatukan menjadi satu kelas karena situasi yang sudah memungkinkan dan covid-19 yang mulai menurun namun tetap wajib mematuhi protokol kesehatan. Awalnya ragu, cemas, takut menjadi canggung, dan rasanya ingin tetap bersama pada sesi satu akan tetapi harus disatukan dengan sesi dua karna pada dasarnya kami memang berada pada kelas yang sama. Seperti biasa, kami hanya dapat akrab melalui grub chat online, dan saat bertemu hanya tersenyum diam dan berbicara seadanya.
Hari demi hari sangat cepat berlalu, siapa sangka dari yang awalnya canggung, kini kami menjadi begitu akrab bahkan seperti keluarga. Rasanya jiwa kebersamaan kami mulai menyatu, dapat membiasakan diri dan berbaur hingga tercipta kebahagian kebahagian kecil penuh makna.
Kembali pada rumus awal bahwa semuanya butuh proses, dan kami percaya akan hal itu. Hari demi hari dilalui dengan kebahagian-kebahagian kecil yang bermunculan, kami mulai menunjukkan sikap-sikap yang selama ini selalu tersembunyikan. Yang awalnya ragu apakah dapat berbaur dengan nyaman, pada akhirnya semua pikiran itu terjawab dengan tindakan dan wujud nyata. Solidaritas kelas yang mulai terjalin, dan mereka menpunyai cara tersendiri untuk menunjukkan rasa peduli antar sesama.
Beranjak tiga bulan kami bersama di satu kelas, rasanya sudah sangat akrab dan nyaman berada di kelas ini. Teman-teman yang baik dan lucu, membuat suasana dalam kelas semakin hangat bahkan dengan tingkah dan kelakuan random yang hampir tiap hari mereka lakukan. Semua ini dilakukan dengan tulus, terlihat dari raut wajah mereka yang senang dan bahagia berada dalam kelas membuat chemistry kami cepat terbentuk antar satu dengan lainnya.
Hari hari kami lalui dengan bahagia pastinya, dimulai dari hal-gal kecil yang penuh arti. Saling menjaga, melindungi, mensupport sesama teman, membantu saat susah, mengingatkan untuk kebaikan, dan rasa peduli yang nampak dari masing-masing diantara kami namun berbeda cara untuk menunjukkannya. Semua itu yang membuat solidaritas kelas yang lebih terlihat jelas dan nyata.
Tak terasa kami sudah memasuki ujian akhir semester yang pada saat itu kami berada di penghujung kelas 11 dan akan melanjuti babak baru untuk naik tingkat akhir masa SMA yaitu kelas 12. ujian terlewati dan kami sudah berada di kelas 12 namun belum sampai disitu lagi-lagi kami mendapat kejutan baru yang membuat sedikit drama mulai bermunculan. Isu-isu mengenai kelas kami yang akan di rolling mulai bermunculan, berharap hanya kabar burung sambil menunggu keputusan dari para dewan guru dan kepala Madrasah.
Sampai pada satu hari dimana isu tersebut benar adanya, kelas kami akan dirolling kembali, “yang tadinya mulai nyaman sekelas eh malah di rolling lagi?” ucap salah satu siswa. tiba-tiba dari arah belakang muncul siswa lainnya membawa kertas berisikan nama-nama untuk kelas yang baru. Sedih, terharu, kesal semua campur aduk rasanya, ada yang sampai menangis karena belum siap berpisah, ada juga yang bahagia dan masing-masing mempunyai alasannya.
XII IIK 2 menjadi kelas kami selanjutnya, lagi dan lagi harus melakukan penyesuaian dengan kelas yang baru, menuntut pada masing-masing diri agar dapat berbaur lebih cepat karena mengingat tidak sampai setahun lagi kami akan lulus dari sekolah ini. Kami yang berjumlah 36 orang dengan mayoritas laki-laki sebanyak 23 dan perempuan yang hanya berjumlahkan 13 orang membuat rasa canggung tercipta sangat kuat. Sehari, seminggu bahkan satu bulan pun rasa canggung itu tak kunjung hilang, hanya bisa tersenyum saat saling tatap dan berbicara pun seperlunya saja. Perlu waktu yang cukup untuk bisa saling menyapa dan berbicara dengan ramahnya.
Disamping itu kami juga sering melakukan hal-hal yang dapat membuat suasana kelas mulai tercipta. Hal-hal yang membuat kelas kami semakin kompak, ada yang saling ganggu, jahil, bermain di saat waktu kosong, bercerita, dan banyak hal lainnya.
Asik, seru, dan happy itulah yang kami rasakan sekarang, namun di celah celah kebahagian itu, kami sadar pelulusan semakin dekat dan kurang lebihima bulan lagi akan berpisah untuk melanjutkan pendidikan masing-masing kedepannya. Memperbanyak dokumentasi setiap harinya dan berusaha membuat moment-moment yang berkesan untuk bisa selalu di kenang nantinya, karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan pertemuan yang singkat menghasilkan kenangan yang hebat.
Ada yang bilang bahwa masa masa indah itu ada pada masa SMA, awalnya masih sulit menerima pandangan itu karna masa kami yg bisa dibilang terenggut oleh corona virus. Namun faktanya, sekarang kami dapat membuktikan betapa seru dan indah nya masa-masa ini apalagi di jalani dengan baik bersama orang-orang terbaik. Semoga selalu di berikan kesehatan untuk kita semua dan bisa tetap solid sampai kapanpun itu. Sangat beruntung dan bahagia bisa mengenal kalian, teman teman XII IIK 2.







