Home OPINI Ketika Mahakarya Nusantara Kurang Mendapat Dukungan di Negeri Sendiri

Ketika Mahakarya Nusantara Kurang Mendapat Dukungan di Negeri Sendiri

85
0

Oleh: Mohammad Faiq Azis
Wartawan LPM Qalamun

Di tengah derasnya arus globalisasi musik, nama Alffy Rev muncul sebagai sosok musisi, komposer, editor, sekaligus kreator digital yang menghadirkan warna berbeda. Ia bukan sekadar mengejar popularitas, melainkan seniman yang memadukan musik modern dengan instrumen dan budaya Nusantara. Karya-karyanya, seperti seri Wonderland Indonesia, bukan hanya suguhan visual dan audio yang megah, tetapi juga representasi identitas bangsa.

Alffy Rev membuktikan bahwa musik bisa menjadi media diplomasi budaya. Lewat perpaduan EDM, orkestra, instrumen tradisional, serta narasi budaya, ia menyampaikan pesan: Indonesia itu keren. Lebih dari sekadar musik, karya Alffy menumbuhkan kembali rasa nasionalisme, terutama bagi generasi muda yang sering lebih akrab dengan musik Barat dibanding musik negeri sendiri.

Namun, di balik pencapaiannya, muncul pertanyaan besar: mengapa karya sebesar ini belum mendapatkan dukungan luas dari masyarakat, bahkan pemerintah? Meski mendapat perhatian sesaat, dukungan yang seharusnya menopang produksi besar seperti Wonderland Indonesia masih terasa minim. Produksi kompleks seperti ini membutuhkan biaya besar, riset mendalam, dan tenaga kreatif yang tidak sedikit. Tanpa dukungan berkelanjutan, Alffy harus mengandalkan tim kecilnya untuk terus berkarya.

Padahal, karya-karya Alffy sudah banyak digunakan di berbagai lembaga dan instansi besar. Ia pernah dipercaya mengaransemen lagu Take Off milik maskapai Garuda Indonesia, ikut mengaransemen lagu resmi Asian Games 2018, hingga kerap diputar dalam peringatan Hari Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, dan acara resmi nasional lainnya. Ironisnya, ketika karya-karya itu diputar, masyarakat sering tidak tahu siapa kreator di baliknya.

Kini, Alffy tengah mengusung misi lebih besar melalui Ekspedisi Wonderland Indonesia, turun langsung ke berbagai daerah untuk melakukan riset budaya yang akan digarap menjadi film panjang. Misi ini seharusnya mendapat perhatian serius, tidak hanya dari publik, tetapi juga dari pemerintah.

Pemerintah seharusnya melihat karya seperti ini sebagai aset diplomasi budaya. Bayangkan jika Wonderland Indonesia diputar resmi dalam perayaan nasional, dijadikan konten utama promosi pariwisata, atau dibawa ke forum internasional. Ini akan memperkuat citra Indonesia di mata dunia, bukan hanya sebagai negeri yang indah secara alam, tetapi juga kaya secara budaya.

Karya Alffy membuktikan bahwa nasionalisme bisa tumbuh melalui seni modern. Dengan menghadirkan budaya Nusantara dalam format yang relevan bagi generasi muda, ia membentuk narasi baru: mencintai Indonesia tidak harus kuno, tetapi bisa sekeren, segagah, dan semegah karya musik modern.

Alffy Rev telah melakukan bagiannya: menciptakan mahakarya yang membanggakan. Kini, giliran kita sebagai bangsa memberi ruang, dukungan, dan apresiasi. Pemerintah, media, serta masyarakat perlu memastikan karya anak bangsa seperti ini tidak hanya menjadi tontonan sesaat, tetapi bagian dari kebanggaan nasional yang mendunia. Karena pertanyaan yang layak direnungkan: jika bukan kita yang mendukung karya anak bangsa sendiri, lalu siapa lagi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here