Oleh : Moh.Fauzan
Wartawan Magang
Di batas senja, saat langit mulai meredup,
Aku temukan lagi bingkai usang yang kau tinggalkan.
Bukan air mata, hanya hening yang tersusun,
Saat jariku menyentuh jejak-jejak kenangan silam.
Kau, yang pernah menjadi puisi tak bertepi,
Kini hanya barisan kata di buku yang tertutup rapi.
Aroma kopi yang dulu kita bagi,
Masih samar tercium di udara sepi.
Kita pernah tertawa di bawah hujan lebat,
Berjanji abadi di depan mentari yang hangat.
Momen itu indah, tak bisa kubantah,
Walau kini kisah kita telah berganti arah.
Ada sudut-sudut kota yang masih menyimpan namamu,
Bisikan angin pun terasa seperti sapaan suaramu.
Bukan lagi luka, tapi pelajaran yang berharga,
Tentang bagaimana cinta datang dan kemudian harus merelakan.
Aku simpan semua, bukan untuk diratapi,
Tapi sebagai penunjuk arah, di malam hari.
Terima kasih, untuk babak yang telah usai,
Kau adalah masa lalu yang damai.







