Home OPINI Mahasiswa atau Robot? Menolak Normalisasi Stres Berat demi Mengejar IPK

Mahasiswa atau Robot? Menolak Normalisasi Stres Berat demi Mengejar IPK

77
0

Oleh: Siti Hajar Musyawir
Jurusan: Pendidikan Bahasa Arab
Wartawan LPM Qalamun

Di era hustle culture yang semakin ekstrem, muncul standar tak tertulis di dunia kampus: jika belum begadang hingga sakit atau melewatkan waktu makan demi tugas, maka dianggap belum “berjuang”. Mahasiswa seolah berlomba untuk menjadi yang paling lelah, paling kurang tidur, dan paling menderita demi angka di kartu hasil studi. Kondisi ini bukan lagi tentang dedikasi, melainkan romantisasi terhadap penderitaan.

Banyak mahasiswa terjebak dalam pola pikir bahwa produktivitas adalah segalanya. Waktu istirahat, bahkan di akhir pekan, sering kali memicu rasa bersalah. Julukan “ambisius” menjadi pedang bermata dua: dipuji sebagai prestasi, tetapi juga menimbulkan tekanan mental yang terus-menerus. Akibatnya, mahasiswa dipaksa untuk terus berjalan tanpa jeda.

Padahal, kesehatan mental bukan sekadar tren di media sosial atau hiasan kata dalam unggahan digital. Kesehatan mental adalah fondasi agar manusia dapat berpikir dan berfungsi dengan baik. Memaksa otak bekerja tanpa istirahat tidak hanya menurunkan kualitas akademik, tetapi juga berisiko merusak kesehatan saraf dalam jangka panjang.

Masalah ini semakin rumit ketika lingkungan kampus, baik dosen maupun sesama mahasiswa kerap bersikap abai. Masih sering terdengar anggapan bahwa generasi sebelumnya menghadapi beban yang lebih berat tanpa banyak mengeluh. Perbandingan semacam ini tidak relevan dan justru berbahaya. Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda, mulai dari derasnya arus informasi, tuntutan keterampilan nonakademik, hingga tekanan ekonomi yang semakin besar.

Ketika seorang mahasiswa memilih untuk beristirahat sejenak, hal itu bukan tanda kemalasan, melainkan bentuk perlindungan diri agar tidak jatuh di tengah proses. Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat mencetak lulusan, tetapi juga ruang yang mendukung pertumbuhan manusia secara utuh.

Sudah saatnya istirahat dinormalisasi tanpa rasa bersalah. Indeks Prestasi Kumulatif memang penting untuk masa depan, tetapi kesehatan mental adalah modal utama untuk menjalaninya. Mari berhenti merayakan kelelahan berlebihan, karena gelar sarjana tidak akan bermakna jika harus dibayar dengan rusaknya kesehatan jiwa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here