Oleh: Fadila Qairati
Jurusan: Ekonomi Syariah
Pengurus Redaksional LPM Qalamun
Pernah ada ruang yang dindingnya tak terlihat,
namun mengecilkan langkah.
Udara di sana tipis, cukup untuk hidup,
tak cukup untuk tumbuh.
Suara hati belajar berbisik, menyusup di sela-sela sunyi agar tak dianggap berlebihan.
Cahaya diredupkan perlahan, seperti lampu yang sengaja diputar agar tak menyilaukan siapa pun.
Terlalu lama berdiri di situ, mengira bertahan adalah bentuk setia, mengira diam adalah bentuk dewasa.
Sampai suatu pagi, retakan kecil terdengar dari dalam dada sendiri.
Pergi rupanya tak selalu gaduh. Ia hanya satu langkah ringan yang akhirnya jujur.
Tak ada pintu dibanting, hanya kunci yang dikembalikan kepada diri sendiri.
Di luar, langit tidak berubah, namun terasa lebih lapang.
Napas tak lagi meminta izin dan bahu tak lagi memanggul beban yang tak pernah bernama miliknya.
Yang patah tak diumumkan, yang perih tak dipertontonkan.
Semuanya ditanam dalam tanah sunyi, disiram kesabaran, hingga tumbuh menjadi keberanian yang akarnya lebih dalam.
Kini kaki belajar lagi cara melangkah tanpa ragu.
Ritme tak lagi mengikuti detak orang lain.
Mimpi-mimpi lama dipungut kembali dari sudut ingatan, dibersihkan dari debu keraguan, lalu disimpan di saku paling dekat dengan harapan.
Tak semua cahaya datang dari luar.
Ada yang lahir saat seseorang berhenti mengecilkan diri, saat ia memilih ruang yang memberi tempat pada sayapnya sendiri.
Perjalanan ini tak bersuara keras.
Ia seperti tunas yang menembus tanah tanpa perlu tepuk tangan.
Dan perlahan, yang dulu terasa seperti akhir menjadi awal yang lain—lebih jernih, lebih luas, lebih berani bermimpi.







