PALU, LPMQALAMUN.com – Hannah Asa Indonesia menggelar Bootcamp Fintech & Digital Financial Literacy Batch 64 di Taman Hannah Homestay, Jalan Batavia No. 8, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (07/04/2026).
Kegiatan bertema “Fintech Mempermudah atau Menjerat? Generasi Muda di Persimpangan” ini bertujuan meningkatkan literasi keuangan digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial.
Bootcamp ini hadir sebagai respons atas perkembangan fintech yang cepat namun belum diimbangi pemahaman risiko oleh masyarakat.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, S.T., AWP., QWP., CFP., AEPP., QLP., menjelaskan bahwa kemudahan akses layanan keuangan digital dapat menjadi jebakan jika tidak disertai pemahaman yang cukup.
“Hari ini orang bisa pinjam uang dalam lima menit, tapi butuh bertahun-tahun untuk paham risiko. Itu ketimpangan yang kami lawan,” jelasnya.
Berbeda dari batch sebelumnya, kegiatan ini menekankan literasi berbasis risiko nyata. Peserta diajak memahami berbagai ancaman, mulai dari penipuan digital, perilaku konsumtif, hingga dampak jangka panjang dari keputusan finansial instan.
“Literasi tidak boleh tertinggal dari inovasi. Jika terlambat, masyarakat yang akan menanggung risikonya,” ujarnya.
Sasaran kegiatan ini meliputi generasi muda, Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta masyarakat yang aktif dalam ekosistem keuangan digital.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu menggunakan layanan keuangan digital secara aman, lebih kritis, serta memahami konsekuensi setiap keputusan finansial.
“Kalau literasi kalah cepat dari inovasi, maka masyarakat akan terus berada di posisi dirugikan, itu yang ingin kami ubah,” harapnya.
Wartawan: Readers







