Oleh: Nur Haliza
Wartawan LPM Qalamun
Hingga hari ini, masih ada segelintir mahasiswa yang menganggap politik sebagai sesuatu yang jauh, rumit, bahkan kotor. Tidak sedikit yang memilih menjauh, karena citra politik kerap terdengar negatif. Namun, seharusnya kita, sebagai mahasiswa, menyadari bahwa peduli dan melek terhadap isu politik sangat penting. Tanpa disadari, politik hadir dalam setiap aspek kehidupan mahasiswa: mulai dari biaya UKT yang naik, kebijakan beasiswa, fasilitas kampus, hingga kesempatan kerja setelah lulus—semuanya lahir dari keputusan politik.
Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change, agen perubahan yang memiliki kekuatan moral dan intelektual untuk mengawal jalannya bangsa. Jika mahasiswa bersikap apatis, lalu siapa yang akan menyuarakan kepentingan rakyat kecil? Jika hari ini mahasiswa hanya sibuk dengan urusan pribadi, siapa yang akan berani menjadi penyeimbang kekuasaan? Sejarah telah membuktikan bahwa suara mahasiswa selalu menjadi energi besar dalam mendorong perubahan, mulai dari perlawanan era kolonial, gerakan reformasi, hingga berbagai gerakan sosial yang lahir dari kampus.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah berkata:
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Kutipan ini menegaskan betapa besar pengaruh generasi muda, termasuk mahasiswa, dalam menentukan arah bangsa. Kepedulian mahasiswa terhadap politik adalah bukti bahwa idealisme kaum muda masih hidup, tidak tunduk pada pragmatisme yang merusak tatanan demokrasi.
Kepedulian politik bagi mahasiswa tidak harus diwujudkan dalam bentuk menjadi politisi atau selalu turun ke jalan. Peduli politik bisa dimulai dari hal sederhana: membuka mata terhadap isu kebijakan, kritis terhadap keputusan pemerintah, aktif dalam forum diskusi, menggunakan hak pilih dengan bijak, hingga mengedukasi masyarakat di sekitar agar tidak terjebak dalam politik transaksional. Semua bentuk kepedulian ini adalah langkah nyata agar politik tidak dikuasai oleh orang-orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi.
Bayangkan jika seluruh mahasiswa di Indonesia memilih untuk diam dan apatis. Ruang politik akan semakin tertutup, dikuasai oleh kelompok yang lebih kuat secara modal dan kuasa, sementara kepentingan rakyat terpinggirkan. Sebaliknya, jika mahasiswa peduli, ada harapan bahwa politik akan kembali ke tujuan mulianya: menyejahterakan rakyat, menegakkan keadilan, dan membangun bangsa.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk tidak bersikap apatis, serta menumbuhkan kepedulian terhadap politik. Kepedulian mahasiswa hari ini adalah investasi besar untuk masa depan bangsa. Sebab, jika bukan mahasiswa yang menjaga idealisme dan mengawal demokrasi, siapa lagi?







