Oleh: Putri Athifah
Wartawan LPM Qalamun
Ada rindu yang lahir tanpa nama,
berputar-putar di dadaku
seperti burung kehilangan arah pulang.
Setiap malam ia mengetuk,
mencari pintu untuk bersandar,
namun tak satu pun terbuka.
Rindu ini bukan pada seseorang,
bukan pada wajah yang pernah kucintai,
bukan pada pelukan yang pernah kudapati.
Ia hanyalah hampa—
seperti sumur kering menunggu hujan
yang tak kunjung tiba.
Hari-hari berjalan dengan bunyi detik yang asing,
sunyi merayap ke sela tulang,
dan aku terjebak
antara ingin melupakan
atau justru ingin ditemukan.
Betapa berat membawa rindu
yang tak tahu alamat pulang,
yang hanya menjadi bayang-bayang
di ruang hati yang kosong.
Maka kubiarkan ia tinggal—
meski menyiksa,
meski membuat dada ini sempit.
Sebab mungkin,
rindu yang tersesat pun
pada akhirnya akan menemukan rumahnya:
entah di langit, entah di bumi,
atau hanya dalam diriku sendiri.







