Oleh: Aura Reski Ramadani
Wartawan LPM Qalamun
Ayah,
Diantara langkah waktu yang terus berjalan,
Namamu tinggal seperti bayang
Di dinding kenangan yang retak perlahan.
Aku tumbuh tanpa genggam tanganmu,
Tanpa tawa yang harusnya mengiringi masa kecilku,
Tanpa pelukan yang selama ini
Hanya bisa kupinjam dari mimpi-mimpi malamku.
Setiap sore aku menoleh ke pintu,
Berharap kau pulang walay sekali saja,
Tapi angin yang datang lebih setia
Daripada kabar yang tak pernah kau bawa.
Ayah,
Akankah kau tau bahwa rindu ini
Tak pernah meminta banyak?
Hanya ingin kau hadir,
Meski sebentar, meski terlambat.
Kini aku dewasa,
Namun hatiku masih menyisakan ruang kecil
Yang dulu kubangun untuk menyambutmu,
Ruang yang tetap kosong
Meski waktu telah memaksa aku melangkah jauh.
Jika suatu hari kau membaca rinduku
Yang kutulis dalam diam,
Ketahuilah aku tidak lagi menunggu,
Hanya sedang belajar memaafkan
Jejak yang taak pernah kembali.







