Oleh: Moh Fauzan
Wartawan LPM Qalamun
Hari itu tanggal 21 Juli 2025, pukul 13.00 siang. Saya baru saja bangun tidur, tidur malamku kelewat panjang sampai siang. Begitu bangun, aku duduk di kursi teras rumah seniorku sambil bengong, nyawaku masih tercecer entah di mana. Setelah sadar setengah badan, aku ingat ada yang ketinggalan ternyata hp temanku, lalu akupun bergegas ke kosnya seniorku mau titip HP temanku di kos Sekum LPM. Jadi aku pun bergegas ke sana.
Setelah menitipkan HP, aku pamit pada teman-teman yang sedang nongkrong di kos itu.
“Kayaknya saya buru-buru pulang ke panti asuhan dulu soalnya belum ada saya pulang dua hari ini,” kataku.
Mereka hanya tersenyum dan bilang, “Hati-hati, Fauzan.”
“Siap, makasih. Doakan semoga selamat sampai tujuan ,” jawabku setengah bercanda.
Gas Pol ala Pembalap Kampung
Jam 13.30 aku sudah melaju di atas motor Beat kesayanganku. Larinya sekitar 60 km/jam, tapi di mataku itu sudah setara pembalap MotoGP. Masalahnya, saya bawa motor dalam kondisi perut kosong, alias belum isi “kampung tengah”.
Saat melewati Jalan Kelor, tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah warung nasi Padang di pinggir jalan. Oh, betapa nikmatnya nasi Padang dengan rendang dan sambal ijo… pikiranku langsung melayang. Fokus ke jalan hilang, fokus ke daging rendang.
Dan seperti adegan film laga murahan, di pertigaan Jalan Kelor–Ketimun, muncul tiba-tiba seorang gadis remaja. Dia masuk ke jalan dengan santainya, dan aku yang masih sibuk membayangkan nasi Padang, panggil….. Langsung ku tabrak tidak sempat ba tare rem motor kasian! Aku menabraknya dari samping. Motor Beat-ku langsung salto depan seperti atlet senam Olimpiade.
Di tengah jungkir balik, aku spontan membaca dua kalimat syahadat. “Mungkin ini hari terakhirku hidup di dunia” batinku.
Disayang Tuhan, Diabaikan Orang-Orang
Setelah jatuh, aku terkapar di aspal. Orang-orang berkerumun, tapi anehnya hampir semua langsung menolong si gadis. Aku cuma ditinggal rebahan di pinggir jalan kayak kucing kepanasan.
“Kurang ajar, ini orang-orang! Masa saya belum di angkat, mentang-mentang perempuan langsung cepat diorang angkat sementara, saya diorang diam kan ini? Padahal saya ini juga parah.
Sekitar tiga menit kemudian barulah ada yang ingat untuk mengangkat aku. HP-ku rusak, motor Beat lecet parah, badan sakit , pikiran tambah kacau.
Belum cukup sampai situ, saya baru tahu kalau perempuan yang kutabrak itu ternyata anak polisi. Adoh bahaya ini, rasanya dunia langsung gelap. “Habis sudah saya. Motor rusak, hp rusak , tambah dia lagi habis apa-apa,” pikirku sambil menyesali kecelakaan ini.
Nasi Padang Penyelamat Jiwa
Saat aku masih meringis kesakitan, ada seorang om-om bertanya,
“Dek, mau dibawa ke rumah sakit juga?”
Aku menjawab lirih, “Tidak usah, Om. KTPku Donggala. Kasihan kalau nanti jadi repot, biar saja saya begini om.”
Om itu memandangiku dengan sedih.
“Kau sudah makan, dek?”
“Belum, Om. Makanya saya lapar, terus nasolora terus ku tabrak anaknya polisi ini,” jawabku jujur.
“Pantas! Nasolora kau ini. Sudah, ikut om dulu pigi makan nasi padang!”
Alhamdulillah,Aku pun digiring ke warung nasi Padang yang tadi sempat bikin tergiur. Sambil menahan sakit, aku makan dengan lahap. Setiap suapan terasa seperti harapan yang masih bisa menghirup udara hari ini. Aku sampai berpikir: mungkin tabrakan tadi hanya taktik Tuhan supaya aku bisa makan gratis.
Renungan di Kios Ayam Potong selesai makan, aku pindah duduk di kios ayam potong sebelah warung. Badan sakit semua, motor rusak, dompet menipis, dan di kepalaku sudah berputar angka-angka biaya ganti rugi anak polisi itu. Tapi di balik semua itu, ada juga rasa syukur.
Aku merenung: “Musibah datangnya secepat kedipan mata. Kita harus fokus di jalan, jangan gampang tergoda nasi Padang. Kalau lapar, ya berhenti makan dulu, bukan nekat balapan dengan perut kosong.”
Kesimpulan Lucu Tapi Serius,Tanggal 21 Juli 2025 pukul 14.00 akan selalu kuingat sebagai hari di mana aku nyaris masuk liang lahat, tapi malah masuk warung nasi Padang. Hari di mana motor Beat-ku salto, HP rusak, badan lecet, tapi lidahku tetap bisa merasakan nikmatnya rendang.
Pelajaran hari itu jelas: jangan pernah mengendarai motor sambil lapar, apalagi sampai menoleh ke nasi Padang di pinggir jalan. Ingatlah, takdir Tuhan tidak bisa diubah, tapi setidaknya kita bisa mengurangi risiko dengan tetap fokus ke depan.
Jadi, buat teman-teman semua: kalau lagi naik motor, jangan suka toleh-toleh. Ingat, nasi Padang tidak akan lari ke mana. Tapi kalau kalian salah fokus, bisa-bisa kalian yang berlari ke rumah sakit.







