Nama: Firdania Ranti
Jurusan: Sistem Informasi
Wartawan LPM Qalamun
Satu huruf “p” yang dikirim Ana pada sore 17 Juli 2025, pukul 15.51, ternyata menjadi awal dari cerita panjang yang tak pernah kuduga.
“Ya?” balasku singkat.
“Maaf ya, saya lancang mau bertanya. Kamu sudah bikin suket? Kebetulan saya lihat di TikTok kamu lulus SNBP. Jadi saya chat kamu karena kita satu jurusan,” tulisnya.
Aku tersenyum kecil di depan layar.
“Iya, tidak apa-apa. Salam kenal, ya. Aku belum bikin suket kesehatan.”
“Boleh spill Instagram? Supaya saling follow,” balasnya cepat.
Percakapan sederhana itu berlanjut ke Instagram, lalu ke WhatsApp. Rasanya menyenangkan—ada seseorang yang satu jurusan, meski berasal dari daerah berbeda. Waktu itu kami masih di rumah masing-masing, dan chat menjadi satu-satunya cara untuk saling mengenal. Obrolan ringan tentang suket, jurusan, dan sekadar saling mengikuti Instagram terasa cukup untuk membuat kami merasa dekat, meski belum pernah bertemu.
Beberapa minggu berlalu, ospek pun tiba. Kampus penuh sesak oleh ribuan mahasiswa baru. Di tengah keramaian, kami saling mengirim pesan untuk menanyakan posisi.
“Kamu di mana?” tulisku.
“Aku di barisan kanan, yang pakai rok berkilau. Kamu?”
“Aku di pojok kiri. Jauh banget, ternyata.”
Ana tertawa lewat layar. “Iya, wkwk.”
Aku ikut tertawa kecil. Rasanya seperti bermain petak umpet di tengah lautan manusia.
Hari terakhir ospek, saat arak-arakan keliling kampus, kami akhirnya bertemu. Ana tersenyum canggung, aku pun hanya bisa tertawa kecil.
“Wah, akhirnya ketemu,” kataku sambil mengusap keringat.
“Iya, susah, banyak orang,” jawabnya pelan.
Sebelum pulang, Ana berkata, “Kamu pulang dengan siapa? Pulang sama-sama saja.”
Aku mengangguk. Sejak saat itu, langkahku tak lagi sendiri.
Hari-hari berikutnya membawa kami semakin dekat. Kami satu kelas, satu unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan sama-sama masuk himpunan. Awalnya hanya berharap bisa sekadar kenal, tetapi ternyata setiap hari kami duduk di ruang kuliah yang sama, belajar bersama, dan berbagi tugas.
Kebersamaan itu tumbuh tanpa terasa, hingga suatu malam dalam kegiatan pengkaderan himpunan di pegunungan. Jurit malam baru saja selesai. Tubuh lelah, kaki pegal, tetapi ada rasa lega karena akhirnya bisa duduk tenang.
Aku menatap langit penuh bintang, sementara lampu kota berkilau jauh di bawah. Udara dingin menusuk, tetapi suasana terasa damai. Di tengah keramaian teman-teman yang masih bercanda, aku dan Ana memilih menjauh sebentar. Kami duduk bersebelahan, tidak banyak bicara, hanya menikmati pemandangan. Sesekali saling melirik, lalu tersenyum kecil. Tidak ada kata-kata besar, hanya rasa sederhana: sama-sama lelah, sama-sama merantau, dan sama-sama beruntung memiliki teman untuk berbagi momen seperti ini.
Lucunya, sekarang kami sering dikira alumni SMA yang sama dan sudah lama berteman. Padahal, kenyataannya kami baru kenal lewat TikTok—bahkan awalnya hanya dari chat singkat yang agak kaku. Kadang aku dan Ana saling melirik lalu tertawa.
“Bayangkan, kita yang dulu cuma ‘p’ dan ‘ya?’ sekarang dikira sahabat lama.”
Rasanya seperti hidup sedang bercanda dengan kami.
Percakapan singkat yang terlihat biasa saja ternyata luar biasa di mata orang lain. Dari satu huruf “p” dan balasan “ya?”, lahirlah pertemuan yang mengubah perjalanan kami di kampus.
Kini, kami sering menghabiskan waktu dengan hal-hal sederhana: berbelanja kebutuhan kecil, berkeliling kota mencari makan, atau sekadar berjalan tanpa tujuan. Kadang kami tertawa karena berakhir di warung yang sama berkali-kali, atau bingung memilih tempat makan, padahal tujuannya hanya “yang penting kenyang”. Momen-momen ringan itu justru membuat hari-hari terasa lebih hangat.
Aku belajar bahwa hal-hal kecil bisa membawa pada pertemuan besar. Dari pesan singkat yang sederhana, lahirlah cerita yang tak pernah kuduga. Mungkin yang membuatnya istimewa bukan seberapa lama kami saling mengenal, melainkan bagaimana satu momen sederhana bisa berarti begitu banyak—di kampus, di lapangan, atau di jalanan saat kami sekadar mencari makan bersama.
Kadang, satu huruf kecil bisa membuka jalan panjang menuju persahabatan yang tak terduga.







