Home PUISI Menyeka Debu pada Bingkai Foto

Menyeka Debu pada Bingkai Foto

5
0
Oplus_131072

Nama: Muhammad Jibril Paendong
Jurusan: Komunikasi dan Penyiaran Islam
Angkatan: Wartawan LPM Qalamun

Di sudut kamar yang kian lupa pada cahaya,
kau tetap di sana
diam, mematung dalam bingkai kayu yang menua.
Waktu menjelma pencuri paling tekun,
menimbun debu setebal rindu,
mengaburkan senyummu
yang dahulu paling terang di mataku.

Kuraih sehelai kain putih yang lama terdiam,
lalu kusap perlahan permukaan kaca itu.
Gerakanku serupa doa yang bergetar
ragu, namun penuh harap
seperti mengusap air mata yang tak pernah benar-benar usai,
atau membelai wajah
yang tak lagi dapat kugapai.

Satu usapan
matamu kembali menyala,
menembus sisa kelabu yang enggan pergi.
Dua usapan
garis tawamu pulang ke tempatnya,
membawa aroma hujan
dan kenangan yang tak pernah benar-benar reda.

Kini bingkai itu bersih kembali,
mengilap seperti janji yang pernah diucap waktu.
Namun jemariku tetap dingin.
Sebab kusadari,
debu memang bisa disingkirkan dari kaca,
tetapi tidak dari jarak
yang memisahkan raga dan ingatan.

Yang kembali nyata hanyalah potretmu—
sementara dirimu
tetap menjadi bayang tanpa pintu,
tanpa jalan pulang.

Kutaruh kembali bingkai itu di tempat semula,
membiarkan sunyi menyusun letaknya,
dan waktu kembali bekerja dalam diam—
menjatuhkan debu perlahan-lahan,
agar suatu hari nanti
aku kembali punya alasan
untuk menyentuhmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here