Home CERPEN Tembok yang Runtuh Tanpa Suara

Tembok yang Runtuh Tanpa Suara

6
0

Nama: Yuni
Jurusan: Sistem Informasi
Angkatan: wartawan LPM Qalamun

Tidak ada yang benar-benar menyadari sejak kapan semua itu dimulai. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti biasa—tenang, tanpa masalah, tanpa luka. Namun, di balik itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Keadaan yang sama terus berulang, membentuk beban yang tak terlihat, tetapi kian hari terasa semakin berat di dalam dirinya.

Ia sudah terlalu sering mengalah. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia lelah. Lelah harus selalu memahami, sementara tak seorang pun mencoba memahami dirinya. Hari demi hari, ia dipaksa mengerti keadaan yang bahkan tak pernah mereka lihat dari sudut pandangnya. Ia diminta diam, diminta menerima, seolah-olah perasaannya tidak pernah benar-benar ada.

Setiap kali ia mencoba bicara, mencoba menjelaskan, semuanya selalu berakhir di tempat yang sama—ia yang disalahkan. Kata-katanya seakan tak pernah cukup benar. Penjelasannya selalu dianggap berlebihan. Di hadapan mereka, ia belajar menahan: menahan kata-kata, menahan amarah, menahan luka yang terus menumpuk tanpa ruang untuk keluar. Hingga akhirnya, semua itu hanya bisa tumpah di tempat yang paling sunyi.

Di ruang sepi itu, ia duduk sendiri. Diam, tanpa suara. Air mata jatuh perlahan; ia menahannya agar tak terdengar oleh siapa pun. Bahkan kesedihannya pun terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang benar-benar peduli pada apa yang terjadi di dalam dirinya.

Ia mencoba tetap kuat. Ia membangun tembok dalam dirinya—kokoh, tinggi, tak tergoyahkan. Tembok itu menjadi pelindung, menjadi satu-satunya cara agar ia tetap bertahan. Namun, setiap kali keadaan yang sama kembali terulang, retakan kecil mulai muncul. Satu per satu. Tak terlihat, tetapi nyata.

Hingga suatu hari, tanpa peringatan, tembok itu runtuh.

Bukan dengan suara keras. Bukan dengan ledakan emosi. Tembok itu runtuh dalam diam—persis seperti cara ia selama ini menahan segalanya. Bersamaan dengan itu, semua yang ia simpan selama ini ikut jatuh: luka, kecewa, amarah, dan pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.

Lukanya memang tidak terlihat, tetapi terasa begitu dalam. Menetap di ingatan, menjadi bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: untuk apa semua ini? Mengapa ketidakadilan terasa begitu menghancurkan? Mengapa harus ia yang selalu menahan?

Trauma itu tumbuh diam-diam, tanpa suara, tanpa disadari. Ia hidup bersama luka dan dendam yang tidak pernah ia minta.

Semua ini berawal dari mereka—yang dengan mudah menganggapnya egois, pemarah, tidak peduli. Padahal, yang sebenarnya terjadi hanyalah satu: ia lelah dimengerti tanpa pernah benar-benar dimengerti.

Perlahan, ia mulai kehilangan arah. Harapan terasa jauh, bahkan asing. Dunia yang dulu terasa akrab kini berubah menjadi tempat yang penuh jarak.

Hingga akhirnya, ia menemukan tempatnya.

Bukan di keramaian. Bukan di antara mereka.

Melainkan di ruang gelap, di tempat sepi, di jalan yang kosong. Di sana, hanya ada dirinya dan suara ombak laut yang datang dan pergi tanpa pernah bertanya. Di tempat itu, ia tidak perlu menjelaskan apa pun. Tidak perlu berpura-pura kuat.

Hanya ada isak yang tertelan, dan ribuan pertanyaan yang tetap tinggal di dalam hati.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari—
yang runtuh bukan hanya tembok itu,
tetapi juga bagian dari dirinya yang dulu percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here