Oleh: Nur Fatia
Wartawan LPM Qalamun
Dalam hening yang terusap
dalam sunyi kutemukan dirimu,
menggapai rasa yang terlukis indah,
meski bayangmu tertampar jauh
dan mimpiku hanya sebatas angan-angan pasrah.
Mengabaikanmu itu sulit;
layaknya bulan bila berdekatan dengan bintang,
akan terpancar keindahannnya.
Maka, aku adalah bulan,
dan kau bintang-nya.
Aku ingin kisah ini tanpa jeda,
terus berlanjut hingga aku menutup mata,
dan aku ingin kamu bahagia,
meski nanti kita tak lagi bersama.
Dan jika harus kecewa,
seribu kali pun tak apa,
asal kau tetap ada,
meski hanya dalam doa.







