Oleh: Aprilia Ayu Azhani
Wartawan LPM Qalamun
Sering kali terdengar keluhan dari mahasiswa/i bahwa dosen hanya memberatkan mereka, tidak memahami keadaan, bahkan menjadi penyebab utama stres selama masa perkuliahan. Stereotip ini sudah seperti bayang-bayang kelam yang melekat pada dunia perguruan tinggi. Namun, saya pribadi sangat tidak setuju dengan generalisasi semacam itu. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak semua dosen seperti itu.
Saya memiliki seorang dosen yang begitu berbeda dari gambaran tersebut. Beliau mengajar dengan penuh keceriaan, menghadirkan suasana kelas yang menyenangkan, dan membuat kami, para mahasiswa/i-nya, merasa dihargai. Beliau bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghadirkan energi positif yang membuat kami semangat mengikuti setiap perkuliahan. Sikapnya yang humble, selalu mau mendengarkan aspirasi kami terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, dan tidak pernah sekalipun menjatuhkan mental mahasiswa — sesuatu yang sangat langka di dunia akademik.
Ada suatu prinsip hidup yang diajarkan beliau secara tidak langsung: “Kalau kamu mau disenangi, maka senangi dulu orang.” Kalimat itu tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi tercermin dari tindakan dan sikapnya setiap hari. Beliau tidak menghakimi, tidak suka menilai mahasiswa/i dari satu sisi saja, tetapi benar-benar mendampingi proses pembelajaran kami dari hati. Saya merasa beruntung mendapatkan pengalaman belajar dari sosok seperti beliau — dosen yang bukan hanya menjadi pengajar, tapi juga panutan.
Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa masih ada dosen yang memahami dan menghargai mahasiswanya, yang mengajar bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Maka dari itu, alangkah tidak adilnya jika kita menyamaratakan semua dosen dalam satu stereotip negatif. Karena sesungguhnya, masih ada dosen-dosen luar biasa yang menjadikan ruang kelas sebagai tempat yang membangun, bukan menghancurkan.







