Oleh: Aprilia Ayu Azhani
Wartawan LPM Qalamun
Berawal dari satu huruf yang tersesat,
salah langkah jari di layar kaca.
Namun, takdir rupanya pandai bersembunyi,
menyulam benang cerita dari keliru yang sunyi.
Kau hadir tanpa wajah,
hanya suara yang menjelma aksara.
Menyapa lewat jeda,
menemani ruang yang sepi tanpa nama.
Hari-hari kita tumbuh dalam pesan,
tanpa tatapan, tanpa genggaman.
Hanya hati yang diam-diam belajar percaya
pada seseorang yang tak pernah nyata di mata.
Mungkin kita adalah rahasia semesta:
dipertemukan, tapi tak diperlihatkan,
seperti bintang yang bercakap dengan bulan—
dekat di rasa, jauh di pandangan.







