Home OPINI Berduka Sampai Saat Ini

Berduka Sampai Saat Ini

67
0

Oleh: Nazwa Sabina
Wartawan LPM Qalamun

Situasi yang terjadi pada saat ini di Palestina bukan sekadar perebutan wilayah atau perbedaan keyakinan. Ini adalah tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang dipenuhi penindasan, penjajahan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlangsung hingga hari ini. Dunia menyaksikan, namun suara keadilan kerap dibungkam oleh kepentingan politik global. Lebih ironis lagi, negara-negara yang seharusnya menjadi pelindung perdamaian justru memilih diam atau berpihak pada kekuasaan yang menindas.

Setiap harinya, rakyat Palestina harus memilih antara bertahan atau mati. Mereka hidup dalam kepungan, di bawah teror bom, peluru, dan larangan akses terhadap kebutuhan dasar. Yang lebih menyayat hati adalah fakta bahwa kelaparan kini menjadi senjata zionis. Bantuan kemanusiaan dihalangi, sumber makanan dan air dibatasi, bahkan rumah sakit pun tak luput dari serangan. Anak-anak kelaparan, ibu-ibu menangis tanpa tahu kapan keluarganya bisa makan lagi. Ini bukan bencana alam. Ini adalah kekejian yang dilakukan secara sistematis untuk melemahkan generasi, mematahkan semangat, dan merampas hak hidup sebuah bangsa.

Tindakan yang dilakukan oleh rezim Zionis sudah melampaui batas kemanusiaan. Mereka membunuh tanpa pandang usia, menghancurkan tanpa belas kasihan, dan merusak harapan akan masa depan yang layak bagi rakyat Palestina. Dunia menyebut ini konflik, tapi bagi rakyat Palestina, ini adalah penjajahan brutal yang masih berlangsung di abad modern—penjajahan yang dibungkus dengan narasi politik agar terlihat sah di mata dunia.

Sebagai manusia, kita tidak boleh menutup mata. Ketika penderitaan dijadikan pemandangan harian dan nyawa dianggap murah, maka diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Sikap apatis bukanlah pilihan. Kita harus bersuara, meski hanya dari ruang kecil, karena diam bisa berarti izin bagi kekejaman untuk terus terjadi. Perlawanan tidak selalu berbentuk senjata, tetapi juga bisa lahir dari suara, tulisan, doa, dan solidaritas yang tak henti-hentinya kita gaungkan.

Palestina bukan hanya soal mereka yang jauh di sana. Ini adalah cerminan moral kita semua, apakah kita masih punya hati yang peka terhadap ketidakadilan, atau kita sudah mati rasa dibungkam oleh rutinitas dan ketidakpedulian. Ketika kita memilih peduli, sekecil apa pun tindakan itu, kita sedang menjaga agar rasa kemanusiaan kita tetap hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here