Oleh : Tiara Sakinah
Pengurus Redaksional
Senyum Kia merekah di bawah temaram lampu kafe. Di hadapannya, duduk seorang pria yang selalu berhasil membuatnya tertawa, Mutsir. Bersama Mutsir, Kia merasa hidup, bebas, dan bahagia. Setiap kencan mereka adalah petualangan kecil yang penuh kejutan. Mereka menjelajahi sudut-sudut kota yang belum pernah Kia lihat, mencicipi makanan-makanan aneh, dan berbagi cerita-cerita konyol.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada tanya yang tidak bisa di abaikan Kia. Mutsir adalah sosok yang menyenangkan, tetapi ia hidup untuk hari ini saja. Ia tidak punya rencana, tidak punya ambisi, dan tidak peduli dengan masa depan. Baginya, yang penting adalah menikmati setiap momen yang ada.
Kia berbeda, Ia seorang perencana, Ia selalu memikirkan masa depan, mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan dan Ia ingin hidupnya teratur dan terjamin.
“Nggak kerasa ya, udah setahun lebih kita kayak gini,” kata Kia, sambil mengaduk kopinya. Lampu-lampu kota Palu berkerlap-kerlip dari kejauhan, menemani malam mereka di kafe favorit.
Mutsir tersenyum, meraih tangan Kia. “Kayak gini gimana? Kayak gini enak, kan? Tiap hari ketawa, nggak ada beban.”
Kia menarik napas dalam-dalam. “Sebenarnya… aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.”
Mutsir menggenggam tangannya lebih erat. “Ngomong aja, Ki. Aku dengerin kok.”
“Aku bahagia banget sama kamu, Sir. Beneran. Nggak ada yang bisa bikin aku ketawa lepas kayak kamu,” ujar Kia, suaranya sedikit bergetar.
Mutsir tersenyum lega. “Tuh kan, aku emang paling jago bikin kamu bahagia.”
“Tapi aku nggak bisa lihat masa depan kita, Sir. Aku nggak tahu kita mau ke mana, aku pengen hubungan yang jelas. Aku pengen tahu, kita punya tujuan yang sama atau nggak.” kata Kia, sambil menatap Mutsir.
Mutsir mengangkat bahu. “Tujuan? Tujuan aku sih, tiap hari bisa bikin kamu senyum. Itu aja cukup.”
“Sirrr….” Kia mencoba sabar. “Aku pengen lebih dari itu. Aku pengen punya rumah, punya keluarga, punya masa depan yang terjamin.”
Mutsir tertawa kecil. “Santai aja, Kii. Nggak usah mikir kejauhan. Nikmatin aja yang ada sekarang.”
“Justru itu masalahnya, Sir! Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini. Aku butuh kepastian,” kata Kia, suaranya mulai meninggi.
Mutsir menghela napas. “Aku ngerti, Kii. Aku ngerti kamu pengen yang lebih. Tapi aku nggak bisa kasih itu ke kamu.”
Kia terkejut. “Maksud kamu?”
“Aku emang nggak punya rencana apa-apa. Aku cuma pengen hidup santai dan menikmati apa yang sekarang terjadi” jelas Mutsir. “Aku tahu, aku nggak cocok buat kamu.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kia. “Jadi… kita mau bagaimana?”
Mutsir menatap Kia dengan tatapan sedih. “Kayaknya… kita emang harus udahan, Kii. Kamu pantas dapat yang lebih baik dari aku.”
Kia terisak. “Aku nggak mau udahan, Sir. Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang sama kamu, Kii. Tapi kita nggak bisa maksain. Kita beda,” kata Mutsir, suaranya bergetar.
Kia terdiam, air matanya mengalir deras. Ia tahu Mutsir benar. Mereka memang tidak bisa bersama.
“Makasih ya, buat semua kenangan indah ini,” bisik Kia.
Mutsir hanya bisa mengangguk, tidak sanggup berkata apa-apa.
Mereka berpandangan dalam diam, saling mengucapkan selamat tinggal tanpa kata. Kemudian, mereka bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan kafe dan kenangan mereka di sana.







