Home CERPEN Aku, Kamu, dan Masa SMA

Aku, Kamu, dan Masa SMA

237
0

Oleh: Fadila Qairati
Wartawan LPM Qalamun

Seorang gadis remaja baru saja pindah ke Kota Palu untuk melanjutkan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kota itu asing, namun ia tak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Di sana, ia menjalin persahabatan dengan enam teman baru: Copy, Fika, Wati, Putri, Febi, dan Nadia. Meski berasal dari kelas berbeda, mereka membentuk geng yang solid. Mereka sering menghabiskan waktu bersama—bahkan tak segan membolos demi kebersamaan.

Namun, semuanya mulai berubah saat mereka naik ke kelas dua.

Suatu hari, Copy ketahuan bolos oleh ibunya. Akibatnya, ia dipindahkan ke sekolah di luar kota.

“Saya mau pindah ke Poso,” ucap Copy di tengah keheningan.
“Hah? Kok bisa?” tanya Ila, terkejut.
“Ketahuan bolos kemarin. Mamaku langsung nyuruh pindah,” jawab Copy singkat.
“Yahhh, Copyyy…” seru mereka bersamaan, mencoba menyembunyikan kesedihan di balik canda.

Setelah kepergian Copy, pertemanan mereka perlahan merenggang. Nadia mulai jarang masuk sekolah karena masalah pribadi. Kini hanya lima orang yang masih sering bersama.

Namun situasi kembali berubah ketika beberapa murid pindahan datang ke sekolah mereka—termasuk beberapa cowok yang mencuri perhatian. Salah satunya adalah Ekal.

Wati yang sekelas dengan Ekal langsung menunjukkan ketertarikan. Sejak saat itu, ia mulai jarang berkumpul dengan geng. Ia lebih sering duduk di kelas, berbincang dengan Ekal, ditemani Febi. Lama-kelamaan, kebiasaan itu menciptakan jarak. Ila, Fika, dan Putri akhirnya lebih sering bertiga.

Masalah pun muncul antara Ila, Wati, dan Febi—dipicu oleh kesalahpahaman dan ego remaja yang tak selalu bisa dikendalikan.

Suatu hari, Ekal menyapa Ila.

“Eh, kau temannya Wati, kan?”
“Iya…” jawab Ila dengan ragu.
“Saya dengar kalian bermasalah ya?” tanya Ekal.
“Iya, tapi ya sudahlah. Biarin aja,” balas Ila sambil berlalu.

Menjelang perayaan 17 Agustus, sekolah mengadakan lomba menghias kelas. Semua murid sibuk, termasuk Ila. Sepulang sekolah, ia mendapat DM dari Ekal.

“Eh, kenapa tiba-tiba Ekal nge-DM ya?” gumamnya.

Pesannya hanya basa-basi soal lomba. Tapi Ila tak membalas. Ia tahu Wati menyukai Ekal dan tak ingin memperkeruh keadaan.

Beberapa minggu kemudian, Wati pindah ke sekolah favorit di kota, disusul Febi yang masuk sekolah kesehatan. Sejak itu, Ila merasa lebih tenang berada di sekolah.

Hari lomba 17-an pun tiba. Suasana meriah. Saat sedang asyik menonton lomba, Ila dipanggil oleh salah satu teman Ekal.

“Ila, ya? Ekal manggil tuh. Di depan perpus.”

Dengan bingung, Ila menghampiri Ekal.

“Kau manggil saya? Kenapa?”
“Hah? Enggak kok,” jawab Ekal datar.

Ila kesal dan hendak pergi, namun Ekal menahan.

“Kau udah punya cowok? Kalau ada, putusin gih. Sama saya aja.”

Ila terkejut, lalu tertawa.

“Halah, dasar buaya.”

Meski terdengar seperti candaan, ucapan itu membekas. Diam-diam, Ila memang menyukai Ekal. Tapi ia memilih memendamnya.

Malamnya, ia kembali mendapat DM dari Ekal:

“Jadi gimana? Udah diputusin belum pacarnya?”
(Disertai emoji tertawa)

“HAHA apasih, Ekal.” balas Ila singkat. Tapi ia tersenyum membaca pesan itu.

Sejak itu, mereka mulai rutin chatting. Obrolannya ringan, kadang lucu, kadang dalam. Hari demi hari, kedekatan mereka tumbuh. Di mata orang lain, Ekal dikenal cuek. Tapi tidak dengan Ila. Bersama Ila, dia jadi hangat dan terbuka.

Sampai akhirnya, suatu malam, Ila memberanikan diri mengunggah foto Ekal di Instastory-nya. Tanpa caption, hanya emoji senyum dan lagu manis sebagai latar. Tapi itu cukup membuat banyak teman sekolah mereka kaget—termasuk Wati.

Keesokan harinya, suasana sekolah terasa berbeda. Wati dan Febi kembali datang ke sekolah untuk mengurus berkas perpindahan. Mereka mendatangi Ekal di depan kelasnya.

“Kau sama Ila, ya? Kok bisa sih? Selera kamu turun banget,” sindir Wati tajam.

Ekal menatap mereka tenang.

“Bukan Ila yang suka saya duluan, tapi saya yang suka dia. Saya yang kejar dia,” jawabnya mantap.

Wati terdiam. Febi hanya menarik tangannya, menjauh.

Sejak kejadian itu, hubungan Ekal dan Ila semakin terbuka. Meski belum resmi, semua orang tahu kedekatan mereka—terlalu dekat untuk sekadar teman biasa. Fika dan Putri, yang sejak awal mendukung, makin bersemangat menyemangati Ila.

“Emang saya cocok ya sama Ekal?” tanya Ila ragu saat duduk santai di bangku taman depan perpustakaan.
“Cocok banget. Kalian kayak satu frekuensi. Saya lihat kau selalu bahagia tiap sama dia,” jawab Fika sambil tersenyum.
“Iya sih… Kalau sama dia tuh rasanya kayak nggak perlu pura-pura,” Ila mengangguk pelan. Ada binar kecil di matanya.

Beberapa hari kemudian, saat jam pulang sekolah, Ekal menghampiri Ila yang sedang duduk bersama Fika dan Putri. Seperti biasa, ia datang dengan candaan. Teman-teman Ila segera pamit, sengaja memberi ruang.

Tiba-tiba, Ekal menatap Ila tengil.

“Eh… kita mau begini terus aja?”
“Maksudmu?” Ila mengernyit bingung.
“Pacaran, kek. Tapi kalau nggak mau, juga nggak apa-apa. Saya cuma… nggak mau kita begini-gini terus,” ucapnya dengan wajah petantang-petenteng.

Ila menunduk. Senyum malu terbit di wajahnya. Hatinya berdebar, tapi ia tahu jawabannya.

“Oh… yaudah, pacaran aja kalau gitu.”

Ekal tertawa kecil, senang bukan main. Hari itu jadi awal yang baru bagi mereka—kisah yang dulu tak pernah direncanakan, kini jadi nyata.

Sejak saat itu, Ekal dan Ila selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Satu sekolah pun tahu: mereka resmi pacaran. Bukan sekadar gosip, tapi kisah cinta yang tumbuh dari diam-diam suka… sampai akhirnya saling.

“Konon katanya, jangan sampai tidak jatuh cinta di masa ini. Masa putih abu-abu, dengan segala asmara yang menggebu.”
(17 dari Angka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here