Home OPINI Jangan Biarkan FOMO Merampas Jati Diri Mahasiswa

Jangan Biarkan FOMO Merampas Jati Diri Mahasiswa

87
0

Oleh : Tiara Sakinah
Pengurus Redaksional

Media sosial adalah sebuah platform digital yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi, berkomunikasi, berbagi informasi, dan berkolaborasi secara online. Media sosial, dengan segala daya tariknya, menampilkan cuplikan kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik, lebih sukses, dan lebih bahagia. Akibatnya, banyak kalangan termasuk mahasiswa seringkali merasa tertekan untuk terus mengikuti tren, menghadiri setiap acara, dan memamerkan pencapaian mereka di dunia maya.

Media sosial dapat menyebabkan kecanduan, membuat mahasiswa menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia maya dan mengabaikan tugas-tugas penting. Media sosial juga dapat memicu Fear of Missing Out (FOMO), membuat mahasiswa merasa cemas dan tidak bahagia karena merasa takut ketinggalan informasi atau pengalaman. Media sosial, dengan segala pengaruhnya, menciptakan standar yang tidak realistis tentang kesuksesan dan kebahagiaan. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa tertekan untuk memaksakan keadaan demi memenuhi tuntutan gaya hidup yang sebenarnya di luar kemampuan mereka.

Takut kalah saing memicu mahasiswa untuk terus memantau pencapaian orang lain di media sosial, melihat teman-teman meraih nilai bagus, mendapatkan pekerjaan impian, atau liburan ke tempat-tempat mewah. Akibatnya, mereka merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan takut ketinggalan semua kesenangan. Inilah awal mula FOMO.

Fenomena ini dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan mahasiswa. Mulai dari pakaian bermerek yang sedang trend, gadget terbaru, hingga liburan mewah, semua menjadi simbol status yang harus dipenuhi agar tidak dianggap ketinggalan. Mahasiswa rela menghabiskan uang saku, bahkan berutang, hanya untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

FOMO membuat mahasiswa terlalu fokus pada apa yang tidak mereka miliki dan melupakan apa yang sudah mereka miliki. Mereka terus mengejar validasi eksternal dan mengabaikan kebahagiaan yang ada di dalam diri sendiri. Akibatnya, mereka kehilangan waktu dan energi yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti belajar, mengembangkan diri, atau membangun hubungan yang bermakna.

Melihat fenomena FOMO yang semakin merajalela di kalangan mahasiswa, kita perlu berpikir ulang dan mengambil tindakan nyata. Media sosial seharusnya menjadi alat yang memberdayakan, bukan menjebak kita dalam lingkaran konsumsi dan kecemasan. Mahasiswa perlu menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam validasi eksternal, tetapi dalam pengembangan diri, hubungan yang bermakna, dan kontribusi positif bagi masyarakat.

Sudah saatnya kita berhenti terjebak dalam FOMO dan mulai menciptakan kehidupan yang lebih bermakna dan autentik. Mari kita gunakan media sosial secara bijak dan fokus pada apa yang benar-benar penting bagi kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here