Nama: Nur Fahmi Ridhana
Jurusan: Pendidikan Agama Islam
Wartawan LPM Qalamun
Sebelum waktu berjalan dan nama menemukan maknanya, ada satu hal yang tak pernah benar-benar hilang: ingatan.
Ia tak lenyap, tak hancur, dan tak pernah mati bersama pemiliknya. Ingatan hanya berpindah ke tempat yang tak terdeteksi oleh peta mana pun jauh dari cahaya, serta sulit dijangkau oleh siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri.
Lorong-lorong panjang terbentang tanpa ujung, dipenuhi rak-rak sunyi yang menyimpan sesuatu yang tak kasatmata, tetapi terasa berat. Setiap langkah menggema pelan, seolah lantai enggan melupakan siapa saja yang pernah melaluinya.
Di sanalah ingatan bersemayam. Bukan sebagai kenangan yang utuh, melainkan serpihan-serpihan rapuh yang berpendar dan perlahan memudar.
Di tempat itu, M berdiri, menyusuri lorong tanpa ujung. Tangannya menyentuh satu per satu serpihan kenangan yang tersusun rapi. Sebagian berpendar lembut seperti cahaya senja.
“Masih bertahan rupanya…” gumamnya pelan saat melihat serpihan kecil yang cahayanya nyaris padam.
Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh sunyi yang memenuhi ruang.
Namun, tidak semua kenangan bersinar indah.
Sebagian terasa dingin, gelap, dan berat ketika disentuh. Ada suara tangis yang tertahan, janji yang tak sempat ditepati, serta wajah-wajah yang perlahan terlupakan oleh dunia. M telah terbiasa melihat semuanya. Ia adalah penjaga dari ingatan yang hilang.
Tangannya menyentuh satu serpihan gelap. Seketika terdengar suara samar seorang pria.
“Aku pasti pulang… tunggu aku.”
Lalu hening. Cahaya itu perlahan redup sebelum kembali diam.
M menatapnya beberapa saat.
“Manusia memang suka meninggalkan janji,” ucapnya lirih.
Tak ada jawaban selain gema suaranya sendiri.
Hingga suatu hari, di ujung lorong paling sunyi, ia menemukan sebuah cahaya kecil yang berkedip lemah. Berbeda dari yang lain, cahaya itu terasa hangat, sangat hangat hingga membuat langkah M terhenti.
Ia mendekat perlahan.
“Aneh…” bisiknya. “Mengapa kau berbeda?”
Di dalam serpihan itu, terlihat seorang anak kecil tertawa di bawah hujan bersama ibunya. Tidak ada kesedihan di sana, hanya kebahagiaan sederhana yang terasa begitu hidup.
Anak kecil itu berputar di bawah hujan.
“Ibu! Lihat aku!”
Sang ibu tersenyum hangat.
“Nanti kau sakit kalau terus bermain hujan.”
“Tapi aku senang!”
Tawa kecil itu memenuhi serpihan cahaya, begitu nyata hingga membuat M terpaku lebih lama dari biasanya.
M menyentuh cahaya itu dengan hati-hati.
Tiba-tiba lorong sunyi di sekitarnya berubah terang. Rak-rak yang sebelumnya kelabu mulai memancarkan warna lembut. Suara tawa kecil bergema, menghapus kesunyian yang selama ini menyelimuti tempat itu.
M menoleh perlahan ke sekelilingnya.
“Apa yang terjadi…?”
Untuk pertama kalinya, tempat itu terasa hidup.
Biasanya, kenangan hanya menghadirkan rasa sesak atau kehilangan. Namun yang ini berbeda. Hangatnya terasa nyata hingga menyentuh dadanya.
Untuk pertama kalinya pula, M menyadari sesuatu.
Ingatan tidak selalu bertahan karena kehilangan. Terkadang, kenangan tetap hidup karena pernah menghadirkan kebahagiaan yang tulus.
M memandangi serpihan itu lama.
“Jadi… kebahagiaan pun takut dilupakan?” tanyanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba cahaya kecil itu bergetar lembut. Suara anak kecil tadi terdengar kembali, samar namun jelas.
“Aku ingin terus mengingat ibu…”
M membeku.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat dibandingkan ribuan tangisan yang pernah ia dengar. Ia menutup matanya perlahan.
“Aku mengerti sekarang,” bisiknya.
Sejak saat itu, M tidak lagi sekadar menjaga kenangan yang terlupakan. Ia mulai merawat kenangan bahagia agar tidak ikut memudar.
Setiap hari, ia menyusuri lorong-lorong panjang, memperhatikan serpihan cahaya yang dahulu sering ia abaikan menjaga agar kebahagiaan tidak hilang bersama waktu.







