Oleh: Nur Fatia
Wartawan LPM Qalamun
Gadis itu,
berusaha memeluk dirinya sendiri.
Isak tangis ia telan setengah mati,
membisikkan kata tenang
kepada jiwa yang terluka berkali-kali.
Aku adalah ceria
yang bersembunyi di balik sunyi.
Aku adalah cahaya
yang meredup bersama redupnya hari.
Saat duniaku runtuh, aku sadar,
bahwa aku anak tengah—
perempuan...
Oleh: Agitya Deliya Pasta
Wartawan LPM Qalamun
Sejak dulu, Elisya dikenal sebagai orang paling ceria di lingkungannya. Ia selalu punya cara membuat orang lain tertawa. Senyumnya lebar, suaranya renyah, dan kehadirannya seolah mampu menghapus penat siapa pun yang ada di dekatnya.
Namun,...
Oleh: Srivahyualda Ladjamu
Wartawan LPM Qalamun
Di sebuah rumah sederhana seorang anak yang sedang bercerita menggunakan pena di sebuah buku kecil tempatnya menuangkan segala apa yang ia lalui hari ini, ia adalah Keyna si gadis tunawicara.
Ia tak punya teman untuk sekedar...
Oleh: Moh Afandi
Wartawan LPM Qalamun
Saya sering memperhatikan anak-anak zaman sekarang, dan satu hal yang paling mencolok adalah betapa lekatnya mereka dengan game online. Ke mana pun pergi, gadget hampir tak pernah lepas dari genggaman. Game online seakan sudah menjadi...
Oleh: Rahmawati Zulqaedah
Wartawan LPM Qalamun
Di sudut sepi, ia terdiam,
cahaya redup, harapan tenggelam.
Dalam keramaian, suaranya hilang,
anak tak dianggap, jiwa terbuang.
Ibu dan ayah menatap hampa,
cinta yang hilang seolah sirna.
Dalam pelukan kosong, rindu membara,
menggapai kasih yang tak pernah ada.
Setiap langkah terasa berat,
mencari...
Oleh: Moh Yusuf
Wartawan LPM Qalamun
Kita bukan saling menjauh,
hanya sedang menempuh jalan dengan arah yang berbeda.
Aku menetap di lembaga dengan segala beban di pundak,
sedangkan engkau melangkah pergi, mengukir masa depan lewat ilmu dan tekad.
Hari-hari kini tak lagi ditemani tawa dan...
Oleh: Syahida Amalia
Wartawan LPM Qalamun
Di zaman modern ini, banyak pelajar menghadapi masalah mental; hal ini mungkin dipicu oleh penggunaan teknologi yang semakin canggih hingga tak terkendalikan, kondisi rumah yang kurang menyenangkan, atau ekonomi yang tidak memadai hingga mereka harus...
Oleh: Syahida Amalia
Wartawan LPM Qalamun
Sore itu langit berbalut mendung. Pandangannya mengembara dari awan kelabu ke kerumunan orang-orang. Ia mengenali setiap raut, namun tak satu pun nama menyingkap jelas di lipatan memorinya.
Di tengah keramaian, kesepian justru meresap perlahan ke dalam...
Oleh: Fikri
Wartawan LPM Qalamun
Aku bukan lagi cahaya
yang dulu menuntun langkahku sendiri.
Kini, aku hanyalah anak dalam gelap,
terseok di lorong tanpa ujung.
Azan pernah jadi panggilan,
kini tinggal gema yang tak lagi kukejar.
Buku-buku dulu kupeluk erat,
kini berdebu dalam sunyi yang panjang.
Gelap ini bukan...
Oleh: Ariel Septia Putra
Wartawan LPM Qalamun
Langit biru tampak begitu indah,
keheningan warnanya melambangkan sejati.
Namun saat malam datang,
ia berubah gelap gulita,
menakutkan hingga terbawa dalam mimpi.
Andai aku bisa memilih,
aku hanya ingin menatap
langit biru setiap hari—
sebab birunya
selalu membuat hati senang.
Namun, tak semua yang...













