Oleh: Febrian Fahrezi
Wartawan LPM Qalamun
Di sudut kota yang asing ini,
Aku melangkah sendiri.
Di antara gedung tinggi menjulang,
Hatiku terjebak dalam bayang.
Rindu rumah membakar dada,
Mengingat tawa yang pernah ada.
Ayah, Ibu, dan adik kecil,
Suara mereka kini hanya angin yang lirih.
Dulu pagi beraroma kopi,
Ditemani sarapan penuh kasih.
Kini hanya suara alarm berbunyi,
Membangunkanku dalam sepi.
Jarak ini memang berat,
Tapi mimpi tak boleh tersesat.
Aku bertahan, aku berjuang,
Agar nanti bisa pulang dengan bangga di tangan.
Aku anak rantau,
Menyimpan rindu tanpa tahu kapan temu.
Namun yakinlah, kampung halaman,
Aku selalu membawa namamu dalam doa yang kupanjatkan.







