Oleh: Rennu Alifah Rahma
Wartawan LPM Qalamun
Tumbuh di antara badai yang tak kunjung reda,
perempuan itu berdiri, meski hampir jatuh tertatih.
Di rumah yang retak, kasih sayang tersembunyi,
ayah dan ibu, dua dunia yang saling menjauhi.
Ayahnya diam dalam cara yang tak bisa dijelaskan,
cintanya terasa jauh, namun tak pernah hilang.
Ibunya dingin, seperti angin malam yang menderu,
tampak acuh, tapi hatinya penuh rindu.
Lingkungan sekitarnya beracun dan menghimpit jiwa,
namun ia tetap berjuang, meski sering terluka.
Seperti bunga liar yang tumbuh di celah beton,
ia melawan dunia dengan tekad yang tak pernah luntur.
Cinta ayahnya hadir dalam bentuk kerja keras,
dalam langkah tegas yang sering terasa keras.
Cinta ibunya menyelinap di antara kebisuan,
dalam tatapan kosong yang menyimpan berjuta alasan.
Ia mengerti, cinta tak selalu berupa kata.
Belajar memahami kesunyian ayahnya,
dan melihat rasa cemas dalam diam ibunya.
Memahami bahasa cinta yang tak terucap,
menerima kasih sayang yang sering terasa gelap.
Bunga yang tetap mekar, meski di tanah yang kelam.







